Membangun Semangat Melawan Miskonsepsi Belajar dari Sanggau

Minggu, 8 September 2019 dimulai pada pukul 08.00 WIB, merupakan suatu momen yang sangat bermakna dan tak akan terlupakan bagi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau. Pada hari libur tersebut, tak menyurutkan semangat para guru untuk belajar, memaknai semangat merdeka belajar yang selama ini sering mereka dengar. Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau sangat berbangga dan berbahagia karena masuk kedalam list daerah yang menjadi wilayah terkunjungi event Roadshow TPN 2019 oleh tim Kampus Guru Cikal. Pada kesempatan ini, Pelatihan Guru Merdeka Belajar Angkatan I di Kabupaten Sanggau, didampingi oleh ibu Amalia Jiandra dari Kampus Guru Cikal Jakarta, wanita muda yang sangat energik, inspiratif dan memotivasi semangat para guru di Kabupaten Sanggau. Pelatihan GMB Angkatan I ini diawali dengan pembukaan oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, dalam hal ini diwakili oleh bapak Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Drs. Maskun Hamri, MM. Beliau dalam sambutannya sangat mengapresiasi semangat para guru untuk terus meningkatkan kompetensi diri mengikuti pelatihan ini, meski dalam suasana libur. Beliau juga dalam event ini turut berkontribusi mengikuti pelatihan dengan semangat.  Kegiatan Pelatihan ini, diisi dengan berbagai aktivitas yang diikuti dengan antusias dari para peserta pelatihan. Melalui bermain peran, diskusi, presentasi, curah pendapat bahkan beberapa games, yang diikuti peserta hingga selesai atau berakhir pada pukul 15.00 WIB. Pelatihan Guru Merdeka Belajar sendiri adalah upaya untuk memfasilitasi dan menggali informasi dari para guru terkait kebutuhan mereka akan peningkatan kompetensi diri, dan pemahaman mereka terkait Merdeka Belajar. Merdeka belajar sendiri memberikan pemahaman kepada para guru untuk melawan atau menghentikan miskonsepsi belajar yang selama ini banyak terjadi.  Adapun miskonsepsi belajar tersebut adalah Belajar hanya untuk ujian, kendali belajar berada pada pengajar, pelajar mempunyai kebutuhan dan minat belajar yang sama, belajar itu menghafal dan menggunakan rumus, keberhasilan belajar dimulai ditandai dengan nilai angka terstandar dan penilaian belajar sepenuhnya wewenang pengajar, itu adalah 6 (enam) dari miskonsepsi belajar. Selain miskonsepsi belajar, adapula miskonsepsi guru belajar. Miskonsepsi tersebut yaitu Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif, Guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli, guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar, Guru berharap belajar bisa instan dan guru bisa belajar sendirian. Melalui Pelatihan Guru Merdeka Belajar ini, diharapkan guru-guru tersadarkan bahwa sudah waktunya miskonsepsi tersebut dihentikan dan diperbaiki menuju arah yang yang lebih baik, tentunya dimulai melalui refleksi diri, sedang berada di tahap apakah kita sebagai guru.  Karena pada hakikatnya Guru Masa Depan yang sangat dinantikan itu adalah guru yang memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, mengembangkan jalur karirnya, aktif berkolaborasi, terus mengembangkan kompetensi dan tentunya Merdeka Belajar. Di akhir sesi Pelatihan GMB Tahap 1 ini, peserta diminta untuk menilai diri sendiri sudah sampai tahap apakah mereka berada dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru; yaitu Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang diperlukan para guru. Memasuki sesi makan siang, Ketua KGB, ibu Titis Kartikawati beserta para penggerak KGB mendesain kegiatan Pelatihan GMB ini dengan konsep yang menarik. Berlatar di SMAN 1 Sanggau, di sesi makan siang digelar juga galeri kuliner daerah khas Sanggau dengan konsep Makan Berami, menu khas daerah dibawa masing-masing peserta disajikan untuk dinikmati bersama. Kegiatan pelatihan GMB ini berakhir pada pukul 15.00 WIB, para peserta berharap kegiatan pelatihan ini akan tetap berlangsung secara berkelanjutan, karena mereka merasa dengan menanamkan kesadaran merdeka belajar mereka lebih merasa dapat bermakna, berdaya dan berkarya, tentunya dengan semangat kolaborasi yang selalu ada.

Guru Merdeka Belajar, Guru yang Adaptif

Peran guru sangat signifikan apabila kita melihat konteks pendidikan secara utuh, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas guru untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Guru belajar merupakan hal yang tidak mudah diperjuangkan, tapi pengembangan guru melalui Guru Belajar dapat menguatkan peran guru di masin masing jenjang pendidikan, sehingga perlu adanya forum diskusi untuk guru-guru. Temu Pendidikan Nasional adalah salah satu kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar yang memfasilitasi atau memberikan wadah kepada guru-guru untuk dapat bertukar pikiran / sharing, berdiskusi mengenai masalah-masalah yang di alami selama pembelajaran di sekolah dan bagaimana cara menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. Dalam pertemuan sesama pendidik kita akan banyak belajar dan menemukan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. Kali ini dalam kegiatan Pesantren Ramadhan, SD Negeri Gadingan 2 bekerja sama dengan Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan Temu Pendidik Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Gadingan 2 selama 3 jam (13.00 – 16.00). Ada sebanyak 15 pendidik dan 104 murid kelas I – VI yang mengikuti Temu Pendidik Sekolah. Pukul 13.00 tepat acara dibuka dengan salam dan perkenalan diri oleh Komunitas Guru Belajar Solo Raya, setelah itu Kepala Sekolah memberikan sambutannya. Beliau mengapresiasi dan sangat senang dengan kedatangan kami, “saya pribadi sangat senang dan mengapresiasi kedatangan Komunitas Guru Belajar Solo Raya, perlu diketahui semenjak kedatangan Pak Arga (salah satu penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya) sekolah kami menunjukkan progress naik. Semoga acara seperti ini tidak hanya sekali dilakukan dan saya berharap kedepannya dapat memberikan dampak positif untuk pendidik dan murid. Untuk selanjutnya saya persilahkan untuk melakukan kegiatan nonton bareng”, jelas Ibu Kepala Sekolah kepada kami. Pukul 13.25 tepat kegiatan dimulai. Kegiatan pertama yaitu pemutaran film  Sahabat Pemberani KPK yang di ikuti oleh siswa kelas I – VI selama kurang lebih 30 menit yang dipandu oleh Kak Winda selaku koordinator acara ini. Anak anak sangat antusias sekali dalam kegiatan ini, terbukti saat diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan film, mereka saling berebut. Kegiatan untuk siswa di akhiri dengan BoardGame. Board Game merupakan produk ciptaan dari Komunitas KPK sebagai salah satu media pembelajaran. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok ada fasilitatornya untuk memandu jalannya game. Setelah melakukan board game selama 20 menit, siswa diminta untuk merefleksi kegiatannya dengan cara menuliskan pesan, kesan dan pembelajaran apa yang bisa di ambil dari board game tersebut. Kemudian hasil refleksi di tempel di papan tulis. Ada satu tulisan yang membuat penulis berdecak kagum “Sahabat Pemberani harus bersikap jujur, adil, disiplin dan mandiri” tulisan itu seperti sebuah tamparan untuk kita sendiri, salah satu sifat  yang harus dimiliki seorang guru dan mereka juga guru untuk kita, karena semua murid semua guru. Acara inti selanjutnya adalah nonton bareng guru merdeka belajar, kegiatan yang dihadiri oleh Bapak/Ibu Guru SD Negeri Gadingan 2 ini bertambah ramai manakala ada tamu dari politeknik Indonusa yang ingin mengadakan workshop tentang pembuatan musik dari suara mainan anak anak atau sejenis musik aransemen. Pemandu kegiatan nonton bareng ini adalah kak Rosi, sebelum dimulai kegiatannya Kak Rosi memberikan paparan dan pembukaan di lanjutkan dengan Kak Winda memberikan penjelasan dengan apa itu Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Para guru menonton bersama video guru merdeka belajar dan mendengarkan, menyimak dengan baik apa yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab. Setelah menonton video dengan durasi sekitar 15 menit, dilanjut dengan refleksi. Pada kegiatan refleksi ini, para guru memberikan refleksi terhadap apa yang di lihat dan didengarkan dalam video dan memberikan apresiasi positif terhadap Komunitas Guru Belajar. masing masing guru diminta menuliskan refleksinya dalam selembar kertas. Refleksi salah satu guru bernama Bu Eni, beliau menuliskan ”Guru terbebani administrasi yang banyak sehingga waktu tersita banyak untuk membuat administrasi”. Hal ini memang benar adanya, seperti yang disampaikan Ibu Najelaa Shihab,” salah satu tantangan kita saat ini adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas tugas administratif,kita terjebak pada ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi,seleksi, nilai yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan nasional sendiri”. Setiap pendidik harus memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi guru merdeka belajar. Refleksi lain disampaikan oleh Kak Catur Ayudiono, “Video merdeka belajar membuka wawasan untuk para pengajar lebih mengeksplor cara mengajar,tentunya dengan kreatif dan inovatif”. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, setiap siswa kita membutuhkan hal yang berbeda dari kita, sehingga kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran sangat esensial.Video guru merdeka belajar merupakan sebuah renungan dan introspeksi kita sebagai pendidik “Sudahkan kita menjadi Guru Merdeka Belajar?”. Setelah pemutaran video ini, kita berharap kita mampu mengubah tujuan kita sebagai pendidik yang sebenarnya dan merdeka, semua dapat kita capai dengan tetap pada komitmen, mandiri dan refleksi. Seorang guru tidak ada yang belajar sendirian, maka dibentuklah wadah komunitas guru belajar. Guru dapat belajar dari guru lain, sama hal nya membuat jaring-jaring pengetahuan.  Acara penutup ditutup dengan pemaparan sedikit dari Kak Catur, beliau adalah seorang pengaransemen lagu dengan mengubah musik dalam lagu bersumber dari suara berbagai mainan anak- anak. Masing masing guru di minta untuk mengambil alat mainan anak anak yang dibawanya, dan kita diminta untuk membunyikan satu-satu. Komunitas Guru Belajar Solo Raya dan Sragen juga membuat sebuat video dengan Kak Catur dengan mengaransemen musik sebuah lagu menggunakan alat mainan anak anak. Rencana kami akan mengadakan workshop bekerjasama dengan kak Catur dalam waktu dekat. Disini pelajaran yang disampaikan kak Catur adalah bahwa semua yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk media belajar, asal kita ada kemauan pasti bisa. Inovasi dalam dunia pendidikan tidak pernah habis, mari kita sebagai pendidik memulai untuk memerdekan diri sendiri sebagai guru merdeka belajar, memiliki kemauan dan komitmen untuk menjadi guru profesional, walaupun semua ini membutuhkan proses yang tidak singkat tapi setidaknya kita berani untuk menghadapi perubahan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.Dan inilah acara penutupan yang berakhir dengan ceria.

Guru Merdeka Belajar, Mempertanyakan Proses Pendidikan

Bulan Mei ini jadwal guru se-Indonesia Raya semakin padat. Diawali dengan menyambut Ramadhan, pengumuman kelulusan siswa kelas XII dan IX, persiapan Penilaian Akhir Tahun, pelaksanaan hingga proses pengolahan nilainya. Hari ini, di sela-sela kesibukan mengolah nilai siswa di kantor, kami terlibat obrolan hangat terkait hasil UNBK yang telah diumumkan beberapa waktu yang lalu. Secara mengejutkan, perolehan nilai rata-rata untuk sekolah kami naik secara signifikan, menempatkan sekolah kami (SMAN 3 Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat) pada posisi 10 besar sekolah dengan perolehan nilai UNBK tingkat SMA/SMK/MA terbaik di kabupaten Sambas. Sebuah berita yang membanggakan seharusnya, namun kami malah tersenyum kecut, mengingat proses panjang berliku selama tiga tahun terakhir dan bagaimana kami telah mengenal dengan baik karakter siswa kami sendiri. Belum lagi jika membayangkan nasib siswa cemerlang tersebut ketika masa SMA berakhir, yang seringkali tak secemerlang nilainya. Disisi lain, nilai bertabur bintang ini menjadi kebanggaan dan lantas dibandingkan dengan perolehan nilai sekolah, kabupaten dan provinsi lain, untuk kemudian menjadi tolak ukur keberhasilan program dan landasan untuk menentukan arah program berikutnya bagi pejabat pembuat kebijakan di tingkat pusat. Obrolan kami kemudian bermuara pada beberapa pertanyaan; Apakah tujuan hakiki sistem pendidikan kita dan apa indikatornya? Lalu dimana peran guru seharusnya ditempatkan dalam sistem ini? Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, mengingat seringnya bongkar-pasang kurikulum yang diterapkan di negeri ini, yang seringkali tidak sesuai dengan daya dukung sekolah dan kebutuhan dunia kerja.  Saya kemudian teringat sebuah video “merdeka belajar” yang pernah dibagikan oleh teman saya, dan mengajak teman-teman untuk sejenak ikut menontonnya. Sebuah laptop dengan pengeras suara ditata sekenanya. Ada kesan kaget, heran di raut wajah teman-teman ketika menontonnya, terutama pada bagian penjelasan piramida pendidikan di Indonesia. Spontan, kami membandingkan apa yang dijelaskan dalam video tersebut dengan apa yang kami rasakan selama ini. Kami semua sudah paham alur kebijakan pendidikan di Indonesia dan menyadari ada yang salah dengan itu. Guru sebagai garda terdepan pendidikan yang lebih mengenal medannya, selama ini diatur oleh pembuat kebijakan yang berada di belakang.  Dan penjelasan tentang membalik piramida tersebut membuka pikiran kami, bahwa seharusnya seperti ini lah sistem pendidikan dijalankan. Lalu kami sampai pada diskusi, apa bedanya program ini dengan program Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan yang telah digagas oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu? Program Merdeka Belajar membuka kesempatan bagi setiap orang untuk berperan dalam sistem dan belajar berproses dari bawah, menikmati jatuh bangunnya, karena belajar bukan hanya dari pakar, namun bisa dari mereka yang sama seperti kami, yang lebih memahami kondisi nyata yang kami hadapi. Akhirnya kami menyadari, bahwa suara kami sendiri tidak akan berpengaruh untuk perubahan, namun akan sangat berperan jika kami bersatu dalam komunitas. Perubahan itu seharusnya dimulai dari diri kami sendiri sebagai pendidik, dan kemauan untuk berubah itu sudah seharusnya ditularkan kepada semua yang merasa bahwa pendidikan kita butuh perhatian.

Pendidikan adalah Urusan Kita Bersama – Kolaborasi Komunitas Banjarnegara

Tanggal 2 Mei 2019, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang dinilai sebagai salah satu tolak ukur kemajuan bangsa, seringkali dianggap sebagai urusan sebagian orang saja. Pendidikan dianggap sebagai urusan dinas pendidikan, guru, sekolah dan pemerintah. Padahal semua orang yang pernah merasakan pendidikan, sejatinya memiliki kewajiban untuk mendidik. Semua orang sebenarnya bisa terlibat di dunia pendidikan. Berbagai kegiatan mulai dari rumah baca di sekitar lingkungan rumah kita, sampai komunitas-komunitas sosial pendidikan banyak bermunculan dengan inisiatif sebagian orang. Terkadang banyak orang seolah menutup mata dengan keberadaan rumah baca dan komunitas sosial pendidikan di sekitar mereka. Sehingga perlu diadakan kegiatan yang melibatkan semua penggerak komunitas untuk bersama-sama mengajak lebih banyak orang untuk bergabung. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019, beberapa komunitas sosial pendidikan dan rumah baca mengadakan sosialisasi di area Car Free Day Alun-alun kota Banjarnegara. Acara dimulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB. Penggerak masing-masing komunitas ternyata memiliki kendala yang sama dalam menjalankan program-programnya, yaitu kurangnya relawan yang mau terjun langsung bergerak untuk pendidikan. Oleh karena itu, mereka berinisiatif bergerak bersama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa di kota Banjarnegara memiliki berbagai organisasi dan komunitas yang sangat terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Beberapa komunitas yang terlibat di acara ini antara lain, Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnejara, Kampung Dongeng Banjarnegara, Sahabat Difabel Banjarnegara, Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara, Sekolah Cerdas (Ceria, Damai, Siaga) dan Komunitas Guru Belajar Banjarnegara. Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara mengadakan baca buku gratis untuk anak- anak dan orang dewasa. Kampung Dongeng Banjarnegara mengedukasi anak-anak melalui cerita menarik oleh Kak Mifta Resti dan boneka kecilnya Kia. Cerita yang disampaikan sesuai dengan tema dari Sekolah Cerdas, yaitu mengajarkan anak-anak untuk siap siaga terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Hal ini penting karena Banjarnegara sendiri adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Sekolah Cerdas juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui permainan papan (board game) yang sangat menarik untuk anak-anak. Ada juga Komunitas Sahabat Difabel yang bekerjasama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), mengadakan Kelas Bahasa Isyarat kepada para pengunjung Car Free Day secara gratis. Banyak masyarakat belum mengetahui cara berkomunikasi yang nyaman dengan teman-teman penyandang difabel rungu. Para pengunjung terlihat antusias mengikuti Kelas Bahasa Isyarat dan mengusulkan agar kegiatan ini diadakan secara rutin. Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara melakukan sosialisasi kegiatan dan penggalangan dana dengan menjual merchandise yang keuntungannya untuk donasi kegiatan di desa Pesangkalan. Komunitas Guru Belajar Banjarnegara mengajak masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai guru untuk mengikuti Temu Pendidik Daerah yang akan dilaksanakan setelah Car Free Day di Rumah Baca Komunitas Kauman. Temu Komunitas Pendidikan se-Banjarnegara yang awalnya hanya diinisiasi oleh 4 orang penggerak akhirnya berhasil mengajak banyak orang yang terlibat dengan sukarela. Walaupun kegiatan ini berlangsung mendadak dan terkesan kurang persiapan yang matang, namun kami yakinini tetap memberikan dampak positif untuk masyarakat Banjarnegara. Setidaknya banyak orang yang lebih mengenal komunitas sosial pendidikan dengan lebih dekat. Banyak juga relawan yang merasa lebih ringan jika bekerja bersama-sama. Karena urusan pendidikan bukan hanya urusan segelintir orang saja, maka kami memilih kerja barengan untuk pendidikan yang lebih baik.

Guru Merdeka Belajar, Reflektif dan Merancang Perubahan

Kegiatan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar ini merupakan Temu Pendidik Sekolah (TPS) yang pertama diadakan di Aurora Fast and Fun Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 4 Mei 2018. Diadakan karena kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, maka diperlukan kolaborasi dengan semua orang dan semua peran. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama Para pengajar kami memiliki peran sebagai pengajar dengan motivasi yang berbeda-beda. Tak banyak yang memiliki passion tinggi terhadap peran dan bidangnya di dunia pendidikan. Hal ini menjadi sebuah tantangan ketika membahas tentang guru merdeka belajar. Tantangannya adalah para pengajar akan merasa bahwa bahasan hari itu tidak penting. Saya membayangkan akan lahir suara-suara dalam batin para pengajar seperti : “Apa sih nih acara gak penting banget. Dengan pendidikan saja aku tak peduli. Dengan proses belajar saja aku tak suka. Apalagi membahas tentang guru merdeka belajar. Ahhh…”Karenanya menurut saya menjadi penting, bersama-sama menyadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pada hari itu, kami menyimpulkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dengan cara mengamati bagian awal video Pesta Pendidikan 2019: Ngobrol Publik Online berikut dan video Lihatlah Pengaruh Tontonan TV pada Anak (https://youtu.be/-U5DOVoVhdU) . Salah satu yang paling mengena dari video tersebut adalah ketika anak-anak berkata bahwa selain dari orang tua dan keluarga, mereka juga belajar dari youtube. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tak masalah bila belajar dari youtube dengan content yang sesuai dengan usianya. Kenyataannya anak-anak yang alamiahnya memiliki kuriositas tinggi, akan tertarik dengan content yang menarik, tak peduli apakah content tersebut sesuai dengan usianya. Dan kenyataan inilah yang ada di sekitar kami. Dengan ini kepedulian kami terhadap pendidikan anak-anak pun meningkat. Belajar adalah kebutuhan alamiah Kepedulian terhadap belajar telah meningkat. Kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan pun perlu mengalami peningkatan. Bukan lagi bicara tentang suka atau tidak suka dengan belajar. Namun berbicara tentang belajar sebagai kebutuhan. Saya berpandangan bahwa seseorang akan merasa butuh, apabila ia merasakan adanya gap (kesenjangan) antara harapan dan kenyataan. Maka saya bertanya, “Sebagai orang tua atau calon orang tua, apa harapan Anda dalam mendidik anak sendiri? Sebagai pengajar, apa harapan dalam mendidik siswa? Adakah pengalaman yang menunjukkan kekuranganmasing-masing dari dIri kita, dalam mendidik mereka, dan apa dampaknya?” Penuh luapan emosi. Itu tiga kata yang menggambarkan kondisi saat itu ketika para pengajar menjawab tiga pertanyaan tersebut. Seorang pengajar di masa lalunya menginginkan agar dirinya menjadi dokter namun tidak didukung oleh orang tuanya, ia merasa masa depannya tidak ditentukan oleh dirinya sendiri, ia merasa tidak berdaya, sehingga ia bertekad tidak akan pernah mendidik dengan pola seperti itu. Seorang pengajar lain bercerita dengan mata berkaca-kaca, tentang pengalamannya yang seringkali dibanding-bandingkan dengan saudaranya, ia merasa menjadi pribadi yang pesimis dan tidak berdaya, sehingga ia pun ingin agar di masa depannya ia tidak menggunakan pola pendidikan yang seperti itu. Seorang pengajar yang lainnya bercerita tentang seorang siswa yang tak ingin lagi belajar dengannya. Ia berkata, “Hari itu adalah hari pertama dan terakhir bagi saya bertemu dengan siswa tersebut.” Pada saat ia sempat menggunakan gaya komunikasi ‘otoriter’ pada siswa tersebut, memerintah tanpa bertanya, hal itulah yang menjadikan peristiwa tersebut terjadi. Dari masalah-masalah tersebut kami dapat melihat dengan jelas adanya ketidakberdayaan siswa akibat orang dewasa yang tidak berdaya. Harapan dan kenyataan telah diungkap. Kami lanjut berdiskusi tentang bagaimana kami menyikapi kenyataan tersebut agar dapat mencapai harapan kami dalam mendidik. Seorang pengajar berkata, “Perlu ada perubahan.” Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Saya pun berkata, “Kita perlu berubah. Dan berubah adalah hakikat dari belajar. Belajar itu dari gak tahu menjadi tahu, dari gak mau menjadi mau, dari gak bisa menjadi bisa, dari salah menjadi benar.” Hari itu kami sama-sama menyadari bahwa kami butuh belajar. Belajar untuk menjadi Guru Merdeka Belajar Sebelumnya kami telah mengungkap adanya kenyataan ketidak-berdayaan. Kenyataan seperti itulah yang melahirkan konsep Merdeka Belajar. Dimana ketidak-merdekaan seorang anak itu diakibatkan oleh ketidak-merdekaan orang dewasa di sekitarnya. Saya bertanya, “Apa itu merdeka?” Banyak pengajar dengan kompak menjawab, “Bebas”. Saya berkata, “Bebas itu terkesan negatif ya, seperti free sex, dsb. Merdeka disini maksudnya apa?” Seorang pengajar menjawabbebas yang bertanggung jawab. Seorang pengajar lain menjawab bebas yang terbatas. Kami pun mencari jawabanannya lewat video tentang Guru Merdeka Belajar () yang disampaikan oleh Mba Ela. Setelahnya kami membahas lebih detail tentang Guru Merdeka Belajar, serta penerapannya. Kami pun berefleksi hingga merancang rencana perubahan. Beberapa diantaranya adalah 1. Mengubah design RPP kami 2. Mengubah gaya kepengajaran kami Mengubah pola memotivasi yang lebih menumbuhkan motivasi internal dari pada motivasi eksternal yang berupa reward dan punishment Mengawali kelas dengan membahas bersama siswa tentang pentingnya materi pembelajaran Mengajar dengan lebih memandirikan siswa : menghindari teknik ceramah, menyalakan tanda tanya, menggunakanberbagai sumber pengetahuan, tidak hanya guru sebagai sumber pengetahuan Menutup pembelajaran dengan refleksi Melibatkan siswa dalam proses penilaian 3. Mengubah beberapa hal kaitannya dengan rekrutmen pengajar Mempertimbangkan passion calon pengajar Memperhatikan kemampuan calon pengajar dalam melibatkan siswa untuk membangun komitmen belajar Sebagai penutup. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak. Hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu. Hanya guru belajar yang pantas mengajar.

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 1)

Akhirnya ke Malino lagi. Selain untuk belajar, saya akan mengunjungi beberapa kawan lama. Pernah mengajar di sini. Sembilan tahun. Berangkat senin subuh, pulang kamis sore. Naik motor bersama Wawan Rurung, Omchaa, Luktfy Alam & Naim Miyala. Tiga tahun lalu, saya pindah ke Pallangga. Kunjungan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bedanya, dulu datang mengajar di sekolah, hari ini sebagai peserta belajar. Saya mau belajar di Temu Pendidik Daerah (TPD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Makassar bekerjasama dengan UPT Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. Di Malino. Bagi kawan guru yang masih asing tentang Malino, silahkan googling. Percayalah banyak keajaiban tersedia di sana. Jika Anda ketik ‘Malino’ di mesin pencari, ada 3.210.000 penjelasan. Kalau Anda iseng menambah katanya menjadi ‘Malino Sulawesi Selatan’, tersedia 431.000 pilihan. Jika tidak ada pekerjaan lain, silahkan ketik ‘Malino daerah mana’, Anda akan disuguhi 331.000 petunjuk. Jika dirasa belum cukup, ketiklah ‘Malino kota bunga’, maka muncul 243.000 jawaban. Mau lebih spesifik lagi? Ada 55.400 petunjuk jika Anda masih berminat mengetik ‘Malino Tinggimoncong’. Dengan petunjuk dan penjelasan itu, saya tidak khawatir Anda tersesat. Biarlah catatan ini berisi peristiwa yang belum dikisahkan di sana. —- Pengalaman bertugas Malino menyisakan banyak kenangan. Kecelakaan di Parangloe salah satunya. Malam itu kami mengejar waktu. Leader memutuskan lewat jalur pintas: Parangloe-Pattallassang. Karena rutenya menurun, saya mengerem lebih dalam. Celaka. Tumpahan oli berceceran di badan jalan. Ban depan melincir, motor jatuh meluncur tidak terkendali. Saya tersangkut di pohon jati. Kap motor hancur, sadel tidak ditemukan. Butuh waktu untuk berdiri kembali. Bahuku terkilir. Beberapa luka lecet di lutut, telapak tangan dan juga siku kanan. Masih lekat dalam ingatan. Kami pernah mengunjungi siswa yang ingin berhenti sekolah. Karena jalan belum bisa diakses kendaraan, motor dititip di rumah warga. Kami susuri jalan sempit dan berlumpur. Magrib kami sampai. Orang tuanya menyambut sangat baik. Ada kopi Parigi plus ubi jalar. Tentu saja kami lahap. Sayang, siswa yang dicari sudah merantau ke Kalimantan. Malam itu juga kami pamit pulang. Hujan deras. Derita kami bertambah karena si biru (Suzuki Thunder tersayang) lupa pakai lampu. Pulang bergelap ria. Pengalaman mengajar lainnya nanti saya ceritakan di buku ‘Anak Gunung Membaca Bawakaraeng’. Banyak kisah aneh terselip di sana. Misalnya bagaimana kami para guru yang baru terangkat bisa ditipu oleh pengumpul benda antik. Kami takjub benar dengan emas palsu yang ditengarai dimunculkan dari dunia gaib. Jangan khawatir, kisah berfaedah juga banyak. Kami pernah menyiksa diri melakukan pendakian gunung selama enam jam perjalanan hanya untuk membuktikan bahwa danau Ramma adalah salah satu spot memancing terbaik. Percayalah. Itu hasutan terbaik yang pernah dilakukan Wawan Rurung. Catatan ini dibuat khusus tentang Temu Pendidik Daerah yang dilaksanakan di sekolahku yang lama. SMA Negeri 4 Gowa. Kenapa Temu Pendidik di Malino? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan ideologis. Saya percaya. Kawan-kawan saya juga percaya. Hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Kata guru dan belajar tidak boleh terpisah. Saya membaca percakapan antara seniman Asrul Sani dengan guru pamong Taman Siswa: Said Reksohadiprojo. Sejatinya guru adalah seorang pamong. Menjadi pamong berarti harus belajar terus menerus, haus pengetahuan. Jika gurunya berhenti belajar, maka pada saat itu juga dia sudah terbunuh. Di Malino, sangat mudah menemukan guru-guru yang mau belajar. Butuh contoh? Baiklah. Ini cerita kawan kita, Korwil UPTD Dinas Pendidikan kecamatan Tinggimoncong.  “Biasanya guru meminta untuk ditempatkan tidak jauh dari kota kecamatan. Ya, sebutkan dengan kemudahan akses”, cerita pak Amran Azis. “Tidak dengan guruku yang satu itu. Dia minta ditempatkan didaerah terpencil. Saya penuhi permintaannya. Apa yang dia lakukan? Kreativitas guruku itu tidak bisa dibatasi oleh fasilitas yang terbatas. Dinding sekolahnya dipenuhi lukisan mata pelajaran. Ada lukisan tentang benda-benda planet, tentang benda-benda bersejarah, tentang rumus matematika dasar, juga tentang manusia”. Kedua, kami menemukan sekutu. Selain murid, sekutu utama guru adalah sesamanya guru. Saya punya banyak kawan-kawan guru di Malino. Kami ingin membangun persekutuan dengan mereka bahwa pendidikan ini tidak boleh menjadi urusan satu orang saja. Sebagai bagian dari kaum intelegensia, kata Bung Hatta, guru tidak boleh pasif, hanya berdiam diri dalam rutinitas paling membosankan: menghabiskan materi dalam kelas. Kami percaya bahwa kerja-kerja pendidikan butuh dukungan banyak pihak. Di Malino kami yakin bisa mendapatkan dukungan itu. Benar. Malam itu sebelum pembukaan, kami disambut dengan percakapan sampai larut oleh dua kepala sekolah : SMA Negeri 1 Tinggimoncong dan SMA Negeri 1 Bontolempangan. Keduanya bukan hanya teman diskusi. Tapi juga sebagai sekutu utama, turut terlibat mensukseskan kegiatan. Pada bagian lain saya akan sebutkan sebutkan satu persatu siapa saja kawan-kawan guru yang baik itu. Karena alasan-alasan itulah, sehingga Malino diputuskan sebagai tuan rumah TPD. Bersambung ke KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Berbagi Praktik Baik dengan Guru Se-Asia Tenggara

Pada 21-23 Januari 2019 yang lalu, sebagai perwakilan dari kampus Guru Cikal saya menghadiri sebuah workshop yang bertajuk “Developing Teachers’ Assosiation” di King Mongkut University of Technology Thonbury Bangkok, yang merupakan inisiasi dari British Council dan Hornby Educational Trust. Kampus Guru Cikal, yang merupakan inisiator dari Komunitas Guru Belajar, berperan untuk menceritakan praktik baik dalam mengembangkan Komunitas Guru Belajar yang selama beberapa tahun terakhir pesat perkembangannya dan juga belajar dari asosiasi profesi Guru Bahasa Inggris dari negara di Asia tenggara. Peserta dari workshop ini berasal dari 8 negara, Indonesia, Malaysia, Cambodia, Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, dan Thailand. Tujuan dari workshop ini adalah untuk mereview kembali bagaimana, di tahun 2019, organisasi kerelawanan dalam Pendidikan Bahasa Inggris, seperti Asosiasi Profesi Guru Bahasa Inggris, bisa menaungi kebutuhan anggota, terutama dalam skala Asia Tenggara. Diskusi dalam kegiatan ini membuka percakapan tentang apa yang terjadi pada asosiasi di negara masing-masing. Seperti negara Vietnam misalnya, yang baru saja meresmikan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris, yang tentu saja menceritakan betapa tangguh proses dan juga persiapan bertahun-tahun sebelumnya. Lain hal dengan MELTA (Malaysian English Language Teahers Association) yang sudah lebih lama berdiri dan memiliki banyak praktik baik hingga dapat mengadvokasi kebijakan ke kementrian pendidikannya terkait pengajaran Bahasa Inggris. Perwakilan dari Cambodia juga memaparkan banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Bagaimana mereka menginisiasi CamTESOL setiap tahunnya dan mengintegrasikan teknologi dalam pengelolaan konferensinya bisa ditiru. Sikap terbuka dan keinginan untuk membantu negara lain juga sangat terlihat dari apa yang dipaparkan. Indonesia? Dengan banyaknya organisasi dan asosiasi tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan asosiasi profesi ini. Diskusi tiga hari dalam workshop ini menghasilkan empat inisiatif, yakni: Adanya keinginan untuk membuat ASEANELTA yaitu asosiasi pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara untuk berbagi praktik baik dan advokasi kebijakan berdasarkan konteks pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa kedua/asing. Teknis akan dikerjakan sepanjang tahun oleh para PIC dari workshop di bangkok. Adanya keinginan untuk menghubungkan pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara dalam sebuah platform digital. Adanya keinginan untuk mengukur dampak pengembangan guru dan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris. Adanya keinginan untuk mengusahakan pendanaan terhadap ASIANELTA, agar bisa terus berjalan dalam mengembangkan kegiatan di organisasi beserta para anggotanya. Tidak ada inisiatif yang tidak menguntungkan tentu saja. Keinginan untuk terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara membuka wawasan untuk kemudian membantu kita mengembangkan kualitas pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia. Berangkat dari situasi permasalahan yang hampir mirip, perwakilan dari setiap negara bersepakat bahwa Asia Tenggara harus bersatu dan berbagi praktik baik. Oleh karena itu, Guru Bahasa Inggris, yang mengajar dengan Bahasa Inggris, dan juga yang tertarik untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris di Komunitas Guru Belajar mari bersatu. Kita lanjutkan diskusi lewat temu pendidik dan lakukan sesuatu untuk berkontribusi pada kemampuan Bahasa Inggris murid-murid kita di masa kini dan masa depan, berangkat dari persoalan yang ingin kita selesaikan di masa kini. Jadi, sudahkah Anda siap terhubung dengan guru-guru se-Asia Tenggara? 21-23 Januari 2019KMUTT, Bangkok, Thailand Chusnul ChotimahManajer Akademik Head Office Sekolah dan Rumah Main Cikal082111539935

Pelatihan Manajemen Kelas Merdeka Belajar di Rembang

Kelas semacam apa yang memfasilitasi guru dan murid menjadi merdeka belajar? Apa saja aspek yang perlu dikelola? Bagaimana strategi mengelolanya?  Berawal dari rencana mudik akhir tahun melalui jalur darat yang kebetulan sesuai dengan permintaan dari Komunitas Guru Belajar Rembang untuk mampir dan mengadakan TPD lagi, sebagaimana dulu ketika mudik lebaran. Saya menyanggupi dengan pertimbangan toh apa susahnya mampir beberapa jam di Rembang, titik tengah perjalanan, sambil istirahat. Capek kan ya mengendarai mobil dari Jakarta ke Surabaya.  Ide awal tersebut berkembang. Penggerak Komunitas Guru Belajar Rembang mengkomunikasikan ide awal tersebut. Lalu dari pihak Sekolah Islam Umar Harus melemparkan usulan untuk sekalian mengadakan pelatihan Guru Merdeka Belajar. Jreng! Saya minta Tim Manajemen Belajar Kampus Guru Cikal melakukan Analisis Kebutuhan Belajar. Berdasarkan hasil analisis, kami pun menyanggupi permintaan tersebut dengan menawarkan modul Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas.  Persiapan pun dilakukan. Urusan kontrak da administrasi, ketersediaan pelatih, peralatan, serta perencanaan kegiatan dan perjalannya. Saya berangkat ditemani Ari Wibowo, Guru Sekolah Cikal Cilandak menempuh perjalanan darat (Follow IG-nya di @ShinodaAri). Berangkat Sabtu pagi yang direncanakan sampai sabtu petang karena pelatihan akan diadakan dua hari, minggu dan senin. Rencana berjalan tidak mulus. Macet menghadang, kami baru bisa melewati Cikampek sore jam 16 WIB dan tiba di Rembang lewat jam 1 dini hari.  Saya dan Ari membuka pelatihan dengan aktivitas perkenalan yang dikemas menjadi permainan. Setelah suasana cair, peserta pelatihan dibagi menjadi beberapa kelompok agar terbentuk kelompok yang beragam baik dari asal sekolah, pengalaman dan jenis kelamin. Setelah itu pembagian peran dalam kelompok untuk memastikan setiap peserta terlibat aktif. Setiap peserta diminta menyebutkan benda kesayangan dan mengkaitkannya dengan harapan mereka terhadap pelatihan. Harapan pelatih ditulis di kertas dan ditempelkan di dinding kelas sebagai masukan bagi pelatih dalam membawakan modul pelatihan.  Pelatih lalu memandu pelatihan dengan struktur belajar yang serupa: agenda belajar, pemicu belajar, membongkar miskonsepsi, dan diakhiri dengan pemahaman esensial beserta praktiknya di ruang kelas. Sesi pertama membicarakan tentang tujuan pendidikan sebagai acuan dalam melakukan pengajaran maupun dalam menjalankan profesi sebagai guru.  Sesi berikutnya adalah sesi guru merdeka belajar. Apa pentingnya guru merdeka belajar? Peserta diajak untuk menganalisis sistem kebut semalam sebagai fenomena dari orientasi belajar demi ujian semata. Analisis tersebut membawa peserta pada miskonsepsi belajar yang menjauhkan belajar dari tujuan pendidikan senyatanya. Miskonsepsi tersebut yang ingin dibongkar melalui guru merdeka belajar.  Guru merdeka belajar adalah guru yang senantiasa merefleksikan dan menyesuaikan pemikiran dan perbuatan terhadap perubahan sekitar dalam upaya mencapai tujuan. Guru yang belajar untuk mencapai tujuan dari dalam diri, bukan karena faktor eksternal. Guru merdeka belajar yang mampu menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan profesi sebagai guru sekaligus mengajarkan merdeka belajar pada murid. Pengajaran merdeka belajar yang memandu murid untuk menjadi pelajar sepanjang hayat. Merdeka belajar terdiri dari 3 elemen yang membentu suatu siklus yaitu komitmen terhadap tujuan belajar, mandiri menentukan cara belajar dan melakukan refleksi belajar.  Setelah mendapatkan pemahaman mengenai merdeka belajar, peserta diajak melakukan permainan produksi pesawat agar mendapatkan pengalaman terkait siklus merdeka belajar. Dari permainan tersebut, peserta diajak memikirkan  penerapannya dalam pengajaran di kelas.  Makan siang selesai, pelatihan masuk pada modul manajemen kelas. Peserta diajak melakukan refleksi melalui metafor kelas untuk menemukan miskonsepsi manajemen kelas. Dari miskonsepsi, peserta diajak memahami konsep kelas sebagai sistem fisik, sistem psikologi dan sistem sosial. Kelas bukan sebentuk ruang dan perlengkapan tapi juga sistem psikologi yang melibatkan emosi dan kebutuhan manusiawi dan sistem sosial dengan dinamika kelompok dan sosialnya. Setelah itu dijabarkan elemen kelas yang perlu dikelola yaitu tata ruang, kesepakaran kelas, kebiasaan kelas, strategi pengelompokkan, strategi menumbuhkan kedisiplinan dan strategi pengajaran. Pada pelatihan ini akan dibahas semua elemen kecuali strategi pengajaran yang diajarkan pada pelatihan berbeda.  Sesi tata ruang kelas dipandu Ari Wibowo yang mengajar peserta merefleksikan tata ruang pada zaman dulu kala. Setelah itu peserta diajak memahami konsep tata ruang kelas. Penting untuk memikirkan tata ruang kelas yang dapat mewujudkan merdeka belajar. Tata ruang kelas yang keliru akan membatasi seagian besar murid untuk terlibat dalam proses belajar. Sementara tata ruang yang efektif akan membantu murid terlibat aktif dan mendapat stimulasi belajar yang kaya dan beragam.  Pada sesi terakhir di hari pertama, peserta diajak membicarakan tentang kesepakatan kelas. Grup WA tanpa ada tujuan dan kesepakatan kelas saja bisa menimbulkan kekacauan, apalagi kelas yang interaksinya lebih intensif. Karena itu penting membangun kesepakatan kelas yang akan menjadi panduan bagi semua penghuni kelas dalam berperilaku. AGar berjalan efektif, penyusunan kesepakatan kelas dilakukan dengan melibatkan murid secara penuh. Kesepakatan kelas adalah cara untuk mencapai tujuan belajar kelas yang direfleksikan terus menerus. Pelatihan hari pertama diakhiri dengan refleksi yang mengajak peserta mengkaitkan makan malam idaman dengan pelajaran yang didapatkan dari pelatihan pertama. Refleksi membantu peserta mengingat dan mengorganisir semua pelajaran yang didapatkan dalam sehari.  Sesi pertama hari kedua membahas tentang kebiasaan kelas. Bila kesepakatan kelas adalah jangkar yang mengatur pergerakan semua penghuni kelas, maka kebiasaan kelas berperan sebagai cara untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam kelas. Perubahan kelas sering dan terjadi secara berkala, semisal murid mau ke toilet, transisi antar pelajaran, pergantian jenis aktivitas belajar, atau pun mengakhiri dan mengawali kelas. Dengan adanya kebiasaan kelas, maka penghuni kelas mempunyai tradisi dan kebiasaan yang dijalankan bersama.  Sesi strategi pengelompokan dibawakan oleh Ari Wibowo yang mengajak peserta mengingat kembali posisi duduk ketika SD dan pengelompokkan yang terjadi akibat posisi duduk. Dari pengalaman peserta ditarik pelajaran bahwa pengelompokkan murid seringkali diabaikan guru padahal sangat menentukan dinamika dan efektivitas proses belajar sosial di kelas. Ari Wibowo lalu menceritakan contoh strategi pengelompokkan yang dilakukan di kelasnya dan bagaimana setiap strategi digunakan untuk mencapai tujuan yang berbeda. Setelah itu, peserta mendapat tantangan untuk memnyusun strategi pengelompokan yang sesuai dengan tujuan.  View this post on Instagram A post shared by Ari Wibowo Shinoda (@shinodaari) on Dec 24, 2018 at 5:35am PST Setelah makan siang, peserta diajak menyaksikan video pendek yang diambil dari kasus nyata tentang kelas tanpa guru. Dari video tersebut, peserta diajak untuk memikirkan makna kedisiplinan. Ternyata selama ini kedisiplinan mensyaratkan adanya guru. Tanpa guru, kedisiplinan menghilang. Padahal penting untuk membangun kedisiplinan yang tumbuh dari dalam diri murid. Kedisiplinan sejati. Bagaimana caranya? Dibahas pada sesi berikutnya.  Sesi berikutnya membicarakan strategi menumbuhkan kedisiplinan. Peserta diajak menyaksikan video … Read more

Membangun Madrasah Inklusi – Guru Belajar Pekalongan

“Anak gila kok diterima di sekolah,” Kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi.  Guru Niam, Kepala Madrasah akan bercerita bagaimana ia jatuh bangun membangun madrasah inklusi. Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk membangun sekolah inklusi? Mengapa perlu menjadi sekolah inklusi? Yuk temukan jawabanya dalam Temu Pendidik Mingguan ke-23 Komunitas Guru Belajar Pekalongan “Membangun Madrasah Inklusi” Anifah  Assalamualaikum, selamat malam Bapak Ibu. Apa kabarnya hari ini? Yuk yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Bahagia rasanya dapat menyapa guru-guru luar biasa malam ini, guru-guru yang memiliki semangat tinggi untuk terus belajar. Perkenalkan nama saya Anif dari KGB Pekalongan. Malam ini akan berperan sebagai moderator diskusi. Jangan lupa siapkan tenaga lebih dan cemilan untuk menyimak materi kece malam ini. Tema diskusi kita kali ini yaitu Membangun Madrasah Inklusi Bersama Pak Niamil Hida dari MI Kranji 1 Kedungwuni M. Niamil Hida Perkenalkan Nama saya Muhammad Niamil Hida biasa dipanggil Niam atau Hida. Pada kali ini saya akan sharing pengalaman proses merintis dan menumbuhkan madrasah Inklusi di MI Kranji 1 Kedungwuni Pekalongan Muhammad Niamil Hida Materi: “Anak gila kok diterima di sekolah,” kata-kata teror melalui SMS ini kami terima pada tahun 2012 di awal-awal tahun perjuangan membangun sekolah/madrasah inklusi. MI Walisongo Kranji 01 Pekalongan pada awalnya adalah sekolah/madrasah biasa seperti pada umumnya, sekolah/madrasah setingkat SD yang di bawah Kementrerian Agama. Awal mula munculnya ide menerapkan sistem inklusi karena keresahan beberapa guru melihat anak yang kami duga termasuk berkebutuhan khusus di sekitar sekolah tidak dapat kesempatan belajar yang baik, jikapun diterima di SD/MI hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan pelayanan yang layak. “Terus anak-anak spesial ini tanggung jawab siapa?” Kata-kata itu yang akhirnya membuat tekad kami semua untuk memulai langkah awal menerima anak terindikasi berkebutuhan khusus di MI kami dengan modal “nekat”. Modal tekad dan nekat memang kata yang pas untuk menggambarkan kondisi saat itu saat memulai merintis madrasah inklusi. Banyak sekali tantangan yang harus dilalui baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dilihat dari faktor internal kondisi guru-guru di MI Kranji 01 tidak ada satupun dari jurusan yang berkompeten dalam penangan ABK, bahkan mayoritas guru di MI Kranji 01 adalah dari lulusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan beberapa bukan jurusan pendidikan. Faktor internal lain yaitu kondisi sarana prasarana yang belum memenuhi dan belum ideal. Faktor eksternal juga sangat mempengaruhi tingkat tantangan dalam upaya menerapkan madarasah inklusi saat itu. Pada tahun 2012, di Kementerian Agama belum ada peraturan yang mengatur tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Di tahun berikutnya ada MI Kranji seperti mendapat angin segar karena Kementerian Agama mengeluarkan PMA No. 90 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan madrasah, yang di salah satu pasalnya menyebutkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, tepatnya pada pasal 14 ayat 6 yang berbunyi “MI wajib menyediakan akses bagi peserta didik berkebutuhan khusus”. Dengan modal peraturan ini kami menjadi lebih yakin bahwa madrasah juga mendapat dukungan yang baik dari pemerintah.Membangun kesadaran lingkungan sekolah akan pentingnya pendidikan inklusi di daerah yang sangat minim informasi tentang inklusi menjadi hal penting, stempel jelek masih banyak diterima anak berkebutuhan khusus, anak autis dianggap gila, anak ADHD dianggap tidak layak belajar bareng sebayanya di sekolah karena sering mengganggu. Melihat hambatan atau tantangan memang perlu untuk menyiapkan aksi apa yang pas untuk menjawab tantangan-tantangan. Seperti tantangan untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya sistem inklusi kepada masyarakat, dan tugas sekolah/madrasah adalah memberikan edukasi dan bukti. Usaha untuk memberikan edukasi dan bukti kami lakukan melalui tindakan P3K, bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, tetapi P3K yang kepanjangannya : Program Solutif, Pembelajaran Efektif, Promosi Simpatik dan Komitmen Energik. 1. Program Solutif Program-program yang didesain berusaha memberikan solusi atas permasalahan- permasalahan yang muncul di sekolah, seperti masalah kesempatan yang sama dalam berekspresi; sekolah/madrasah memberikan kesempatan kepada semua murid untuk tampil sebagai pengibar bendera, walau tubuh mereka sangat mencolok berbeda. Memberikan anak berkebutuhan khusus juga ikut berperan tentunya disesuaikan dengan potensinya. Tidak hanya itu, juga memberikan kesempatan anak kelas 1 MI untuk tampil dengan menjadi petugas upacara. Contoh-contoh program lain seperti parenting untuk memanusiakan hubungan dengan wali murid, program tentang pemahaman toleransi dengan hari tanpa seragam dan lain sebagainya. 2. Pembelajaran Efektif Belajar efektif yang kami percaya bukan sekadar mahir menjawab soal, tetapi belajar yang mendekatkan dengan realita kehidupan sehari-hari, seperti belajar tentang perpindahan panas dengan memasak dan latihan menyetrika baju, belajar perubahan zat benda dengan mencuci baju dan lain sebagainya. Jika murid didekatkan dengan hal yang bukan abstrak akan mempermudah pemahaman, salah satunya kehadiran anak berkebutuhan khusus sangat membatu guru mendekatkan realita ketika membahas toleransi, mencegah terjadinya bulliying dengan buddy system dan lain sebagainya. 3. Promosi Simpatik Kalau 2 hal di atas adalah usaha untuk memberikan bukti pentingnya pendidikan inklusi, promosi simpatik adalah upaya untuk mengedukasi masyarakat. Promosi yang dilakukan di MI kami saya yakin juga sudah dilakukan oleh sekolah lain, yaitu promosi melalui berbagai hal, seperti menyebar brosur dan promosi melalui media sosial. Cara tersebut bisa efektif jika sekolah kita sudah dipandang, kami sadar akan hal itu, maka yang kami lakukan adalah berbagi ilmu tentang apa yang guru-guru kami miliki kepada guru dan orangtua di sekitar, baik praktik baik maupun kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka. Kegiatan promosi simpatik dengan kolaborasi ini sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat. 4. Komitmen “Energik” Bagi saya yang terakhir ini faktor penentu keberhasilan dalam usaha meningkatkan sesuatu termasuk membangun madrasah inklusi. Dalam menjalankan 3 usaha sebelumnya pasti muncul beberapa masalah, tanpa komitmen yang kuat tidak mungkin kita bisa bertahan dengan tujuan mulianya, dengan komitmen masalah apapun bisa diminimalisir selama selalu mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Untuk menjaga komitmen guru, yang kami lakukan adalah dengan membuat program diskusi rutin dengan program obsesi (obrolan senin santai) di forum inilah kami merefleksi program-program yang sudah dijalankan dan mencari program baru atau memodifikasi program program lama jika dibutuhkan. Melalui refleksi bersama program-program untuk memberikan pelayanan bisa bertumbuh lebih baik, seperti awal menerapkan inklusi program awal hanya klinik baca, akhirnya berkembang dengan PPI (program pembelajaran individual) dan lain sebagainya Melalui cara P3K ini yang di dalamnya ada kegiatan refleksi alhmadulillah sedikit demi sedikit apa yang kami lakukan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan inklusi menuai hasil. … Read more

Dari Alam Menuju Guru Belajar Pekalongan

Belajar dari alam, belajar dari Penggerak Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Ketika sekolah dasar dulu, saya mendapat tugas mencangkok. Saya memilih mencangkok pohon jeruk yang banyak tumbuh di halaman rumah. Dengan susah payah, akhirnya berhasil juga mencangkoknya. Ketika dipindah, cangkokan tumbuh, bahkan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pohon jeruk sebelumnya. Singkat cerita, pohon jerukan cangkokan berbunga dan berbuah lebat. Tapi tanpa disangka-sangka, malam badai lebat, dan paginya pohon jeruk cangkokan itu tumbang.  Kenapa?  Kata orang, pohon hasil cangkok tidak mempunyai akar tunggang yang menancap pada kedalaman tanah. Pohon hasil cangkok tumbuh mengalami proses pertumbuhan berbeda dengan pohon yang tumbuh dari biji, atau melalui proses alaminya.  Apa hubungannya cangkok dan guru belajar? Begini ceritanya  Dua tahun lalu, saya diundang menghadiri Temu Pendidik Daerah yang diadakan Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saya sampai di Pekalongan sehari sebelum kegiatan. Keesokan harinya, saya diajak makan siang bersama orang dinas pendidikan sambil ngobrol tentang aktivitas pengembangan guru. Selesai makan siang, saya meluncur ke lokasi Temu Pendidik Daerah yang diadakan di sebuah sekolah. Sesampai di sana, saya disambut kepala sekolah dan kami pun bicara panjang lebar sekaligus menanti para peserta datang. Banyak guru yang hadir, dua ruang kelas yang disatukan pun penuh sesak.  Temu Pendidik Daerah Pekalongan edisi perdana pun dimulai. Pada sesi inspirasi, 3 orang guru berbagi praktik pengajarannya. Seorang Bu Guru bercerita pengalaman awal menjadi guru yang harus ditempuh dengan mengendara motor disambung dengan jalan kaki mendaki gunung. Selanjutnya sesi refleksi, saya memandu para guru melakukan refleksi, menarik pelajaran dari pengalaman guru pada sesi sebelumnya. Dan diakhiri dengan sesi aksi, komitmen tindak lanjut setelah kegiatan. Selesai acara, saya menyatakan kekaguman saya pada dua penggerak Guru Belajar Pekalongan, Pak RIzqy dan Pak Rudi. Temu Pendidik Daerah dipenuhi peserta. Kami habiskan sore dengan obrolan santai sampai jadwal kereta datang dan saya kembali ke Jakarta. Kembali dengan hati gembira.  Tapi entah mengapa, beberapa bulan berlalu, Komunitas Guru Belajar kembali sepi. Tidak ada aktivitas belajar, tidak ada diskusi. Ada apa?  Ketika saya bertanya, Penggerak Guru Belajar Pekalongan menjelaskan dari sekian banyak peserta Temu Pendidik Daerah tidak ada yang tertarik untuk bergabung. Rupanya mereka hadir di Temu Pendidik Daerah karena ada surat edaran dari Dinas Pendidik. Ketika tidak ada surat edaran, keterlibatan mereka pun berhenti. Saya pun jadi ingat Salah Kaprah Pertama Guru Belajar: Guru belajar hanya ketika ada insentif atau ada ancaman hukuman.  Namun, rupanya Penggerak Guru Belajar Pekalongan pantang menyerah. Terus mencari cara ketika ada hambatan menghadang pencapaian tujuan. Satu cara gagal, cari cara lain, yang meninggalkan salah kaprah guru belajar. Mereka mencari guru yang mau belajar karena kemauannya sendiri, bukan karena keinginan mendapat insentif atau menghindari hukuman.  Sebagaimana pohon jeruk yang tumbuh dari biji, Komunitas Guru Belajar Pekalongan tumbuh perlahan. Kegiatan kecil demi kegiatan kecil dilakukan. Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Tahun ini, Komunitas Guru Belajar Pekalongan bekerjasama dengan Universitas Pekalongan menggelar Temu Pendidik Pekalongan Raya yang dihadiri 200 guru dari berbagai daerah. Ada kelas kemerdekaan, ada kelas kompetensi, ada kelas kolaborasi dan ada kelas karier. Paket lengkap! Biji itu rupanya sudah berkembang pohon yang berbuah ranum dan lebat. Apa pilihan Anda, terburu-buru mencangkok atau bersabar menumbuhkan biji Komunitas Guru Belajar di daerah Anda?