Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya?

Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang.  Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80  persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!

Kapan Pendidikan Indonesia Maju?

Apakah Pendidikan Indonesia jalan di tempat?Lalu kapan Pendidikan di Indonesia akan semakin maju? Sekolah-sekolah bergerak mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan terknologi secara masif di era digitalisasi yang datang lebih cepat di Indonesia terutama di masa pandemi sekarang ini, menjadi pintu gerbang bagi guru untuk berani berinovasi. Jika tidak bisa mengikuti perkembangan dan tidak mendorong ke arah yang lebih maju, tentu Indonesia akan menjadi primitif. Percepatan era digital yang lebih cepat dari apa yang diperkirakan, jika sekolah-sekolah tidak segera beradaptasi tentu akan menjadi sekolah dengan segala ketertinggalannya.  Tidak mau bukan kalau pendidikan Indonesia tidak berkembang? Perkembangan teknologi justru bisa menjadi modal dalam memperbarui secara terus menerus pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan kemampuan dalam berbagai bidang untuk memenuhi tuntutan globalisasi. Era digital telah banyak mengubah berbagai hal dalam kehidupan, terutama dalam kepentingan pendidikan, karena akan menjadi terobosan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, dan meningkatkan kualitas pendidikan serta sumber daya manusia khususnya dalam ranah pendidikan. Transformasi pendidikan sudah menjadi keharusan untuk dilakukan sebagai jawaban atas tantangan dan kompetensi di era digital dan abad ke-21.  Seperti yang diketahui acara #BelajarDiTPNVII pun memanfaatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi karena acara Konferensi Tahunan Pendidikan ini dilakukan secara virtual dimana bisa diakses dan diikuti oleh siapa saja dan dimana saja. Temu Pendidik Nusantara VII menjadi salah satu contoh bukti nyata bahwa sekolah, guru, orang tua, murid, dan stakeholder mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan mendorong dunia pendidikan terutama sekolah-sekolah untuk bisa menciptakan, menghasilkan bahkan mempraktikan program-program yang mendukung perkembangan pendidikan.  Terlihat pada acara Temu Pendidik Nusantara VII adanya sesi diskusi yang diisi oleh narasumber dari berbagai sekolah dan daerah, narasumber tersebut antara lain Ibu Ratih Saraswati perwakilan dari Sekolah Cikal, Bapak Johanes Eko Prasetyo perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia, Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo, dan Bapak Edi Gunawan, M.Pd perwakilan dari MTs Al Muthiyah. Pada sesi diskusi atau lebih tepatnya sharing mengenai program sekolah yang dikembangkan di sekolah masing-masing, yang diharapkan dapat memberikan inspirasi dan insight baru bagi guru, sekolah dan pendidikan Indonesia. Mari kita kulik satu per satu apa saja program-program yang akan dibagikan kepada kita semua. Baca juga #BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara Ibu Ratih Saraswati sebagai perwakilan dari Sekolah Cikal Surabaya, Bandung, Serpong, dan Jakarta memaparkan keresahan yang dirasakan selama di sekolah dimana sekolah ingin mengembangkan dimensi-dimensi yang tertuang dalam visi misi sekolah, seperti dimensi peduli, dimensi berorientasi pada aksi, dan dimensi pemimpin yang berdampak. Dari visi misi sekolah inilah ingin mencetuskan sebuah program yang diharapkan bisa berjalan secara keberlanjutan bukan sebuah program yang sekali kegiatan lalu tidak menimbulkan dampak yang terlihat. Berdasarkan kompetensi 5 bintang yang dimiliki oleh Sekolah Cikal sebagai visi misi ini melahirkan program yang bersifat berkelanjutan mulai dari pra-sekolah sampai SMA, yang disebut dengan program Cikal Aksi-Aksi (CAA). Cikal Aksi-Aksi yang dilakukan secara berjenjang ini dikembangkan dalam setiap kegiatan sosial baik bencana alam atau kegiatan yang berkaitan dengan perayaan keagamaan. Pelaksaan CAA ini mengalami beberapa kendala terutama untuk anak-anak pra-sekolah mulai dari usia, jarak, waktu dan kemampuan komunikasi, dari kendala tersebut Sekolah Cikal berkolaborasi dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di daerah-daerah seperti Surakarta, Klaten, Sanggau, Rembang, dan daerah lainnya. Hasil dari kolaborasi antara Sekolah Cikal dengan sekolah daerah ini terlihat anak-anak mulai memahami kebutuhan orang lain dimana dimensi yang diharapkan yaitu dimensi peduli tercapai, anak-anak mulai bijaksana dalam mengambil keputusan atau tindakan yang berdampak pada orang lain, sekaligus mengarah pada jenjang yang lebih tinggi bahwa kepemimpinan anak-anak adalah kepemimpinan yang berdampak jadi murid mulai memandang orang lain untuk berpartisipasi dalam upaya meningkatkan pemahaman yang lebih baik. Cikal Aksi-Aksi ini memberikan rasa kesenangan dan kenyaman tidak hanya kepada murid tetapi juga oleh para guru. Diharapkan dengan sharing mengenai program Cikal Aksi-Aksi ini membuat jejaring antar guru dan murid untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya, bahwa kolaborasi tanpa memandang jarak karena jarak yang jauhpun bisa dijangkau dengan kemajuan teknologi yang sudah ada.  Bapak Johanes Eko Prasetyo sebagai perwakilan dari Sekolah Kristen Aletheia berbagi ketika sekolah menghadapi masa pandemi dimana program yang awalnya melibatkan orang tua dalam kegiatan belajar siswa mengalami perubahan dan tidak sedikit yang merasakan kesusahan dan kebingungan dalam mendampingi anak belajar di rumah dan hambatan komunikasi antar orang tua dengan pihak sekolah. Berdasarkan permasalahan inilah sekolah menerima berbagai masukan dan saran baik dari pihak orang tua dan guru dengan memberikan program pertemuan khusus bagi wali murid yang akan dilakukan oleh sekolah secara satu per satu bergiliran disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada dilapangan atau masing-masing orang tua. Program pertemuan khusus ini memperoleh sambutan yang baik dan membawa dampak bahwa orang tua bisa mendampingi anak belajar tanpa mengganggu aktivitas orang tua dan anak-anak terlihat dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan memuaskan. Ibu Enik Chairul Umah, M.Si, M.Pd perwakilan dari SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo berbagi mengenai program Market Key yang dilakukan secara virtual, program Market Key ini berawal dari harapan sekolah untuk bisa mengembangkan literasi, numerasi kepada anak-aak tidak hanya di sekolah tetapi juga bisa dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Market Key ini dilakukan 1 bulan sekali berjenjang mulai dari Kelas 1-6. Program ini memperoleh tanggapan yang bagus dari para orang tua, sehingga sekolah mulai menawarkan kepada orang tua dan guru untuk membuat flyer penjualan dan metode apa yang akan digunakan dalam mempromosikan produk yang akan dijual. Ternyata program ini menghasilkan sebuah kolaborasi yang produktif dan berdampak antara orang tua dengan anaknya yang terlihat pada saat proses pembuatan produk, promosi, sampai pengiriman dan pembayaran hasil berjualan dengan diskusi-diskusi yang menyenangkan. Program yang dilakukan secara virtual ini dapat menumbuhkan jiwa kemandirian, peduli terhadap orang-orang yang tidak mampu disekitarnya atau merasa patut untuk diberikan apresiasi, dan kreativitas dalam menciptakan suatu produk. Tak hanya anak-anak yang memperoleh dampaknya, orang tua turut merasakan terjalinnya komunikasi yang lebih baik dengan anak, dan merasa dilibatkan dalam menumbuhkan literasi dan numerasi kepada anak-anak, dan tentunya menjadi pengalaman menarik tersendiri bagi orang tua.  Terakhir sharing  yang dipaparkan oleh Bapak Edi Gunawan, M.Pd sebagai perwakilan dari MTs Al Muthiyah yang menceritakan bahwa masih banyak miskonsepsi yang dialami oleh guru-guru, orang tua, dan murid apalagi dihadapkan pada masa pandemi seperti sekarang ini … Read more

#BelajarDiTPN7 Bersama #1000Pembicara

“Kalau daring terus, apa anak-anak paham pelajaran?“Kalau daring terus, apa anak-anak tidak bosan?”“Kalau luring, khawatir kesehatan”“Pembelajaraan tatap muka atau tatap layar? Pilih yang mana?Keresahan kita ini pula yang dicari jawabannya saat #BelajarDiTPN7 Generasi Alpha adalah generasi yang paling muda pada masa ini, generasi ini tumbuh dengan dikelilingi kemajuan teknologi yang begitu pesat dan cepat yang sudah mereka terima sejak masih berusia dini. Merebaknya berbagai jenis informasi yang sangat mudah diakses, menjadi tantangan sendiri bagi Generasi Alpha dalam memilah-milah informasi. Hanya melalui genggaman tangan semua bisa diakses dengan mudah, informasi diperoleh begitu cepat, hiburan yang bisa dimainkan kapan saja. Nah, jika seperti ini apakah anak-anak justru lebih tertarik menghabiskan waktunya untuk bereksplorasi dengan gawainya dibandingkan belajar?. Kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, karena tidak hanya murid yang harus beradaptasi dengan teknologi, tetapi guru pun pada posisi yang sama harus mampu beradaptasi mengelola teknologi menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran dan orang tua memiliki peran baru sebagai penerus penyampaian materi yang seharusnya dilakukan oleh guru, terutama pada kelas-kelas tingkat dasar. Kondisi demikian, menuntut sekolah untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Awal tahun 2020 Indonesia tepatnya bulan Maret menjadi titik balik berubahnya tatanan kehidupan, perkantoran, pusat perbelanjaan, bahkan sekolah-sekolah pun ditutup. Pandemi berdampak, pandemi mengubah tatanan yang sudah dijalani bertahun-tahun dan memunculkan kebiasaan baru. Salah satu dampak yang terasa dan terlihat adalah dunia pendidikan karena sekolah-sekolah ditutup, pembelajaran berlangsung secara jarak jauh, guru-guru dan murid dihadapkan pada situasi harus mampu beradaptasi dengan teknologi secara cepat, tak urung guru-guru yang sudah berumur tetap harus bisa memberikan pembelajaran yang layak untuk anak didiknya.  Anak-anak bisa menerima pelajaran yang saya sampaikan tidak ya? Apa anak-anak merasa bosan dengan daring selama ini?Orang Tua apakah sudah lelah menemani anak-anak sekolah daring? Guru-guru di masa pandemi ini dihadapkan dengan begitu banyak tantangan, kelas yang dilakukan secara tatap muka berganti menjadi daring dan luring secara bergantian, guru-guru harus memutar otak bagaimana mengelola kelas agar anak-anak paham dengan yang diajarkan dan tidak merasa bosan karena menatap layar, tentunya juga mengelola psikologis anak-anak terutama untuk jenjang sekolah awal karena mereka merasa bahwa ini bukan sekolah tetapi selayaknya menonton youtube yang biasa mereka tonton dan dengarkan sebagai hiburan semata, jaringan internet pun tak bisa dielak menjadi hambatan pada proses pendidikan apalagi di daerah yang belum terjangkau jaringan internet dengan baik, kemampuan guru dalam menggunakan perangkat komputer pun diuji di masa pandemi ini, serta orang tua yang tidak bisa mendampingi anak untuk belajar mandiri. Wah, tentu berat jika dirasakan.  #BelajarDiTPN7 menjadi jawaban atas tantangan diatas yang dirasakan oleh guru-guru dan murid, melalui TPN VII inilah terlihat banyak guru-guru justru lebih kreatif dan inovatif di masa pandemi ini. Jika dilihat dari kelas-kelas #BelajarDiTPN7 yang diisi oleh guru-guru berdaya banyak kelas yang menjadi jawaban kebutuhan guru untuk mengelola kelas di masa pandemi ini. Bukan menyerah dan menyalahkan keadaan justru guru-guru semangat menciptakan suasana daring yang menyenangkan dan bermakna. Terlihat hampir 400 kelas yang diselenggarakan, yang terbagi menjadi 4 kategori kelas yaitu Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier.  Di Kelas Kemerdekaan guru-guru berbagi praktik baik pengajaran dengan menyampaikan materi (konten) secara reflektif, yang mau menerima umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara objektif, serta pengalaman belajar dengan rekan sejawat lebih penting dibanding dengan orang ahli.  Inilah contoh kelas yang ada di Kelas Kemerdekaan. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Melalui Kelas Kompetensi #BelajarDiTPN7 peserta belajar tentang kompetensi dari program-program yang tersedia, sehingga dapat mengembangkan diri berkait pedagogi, penggunaan teknologi, karier, bahkan pengasuhan. Contoh kelasnya seperti ini. Pada Kelas Kolaborasi menjadi strategi bahwa guru yang saling berkolaborasi dan bahkan dengan stakeholder yang berkompeten pada dunia pendidikan. Ini menjadi bukti nyata bahwa guru bisa menggerakkan, melakukan perubahan dan menjadi pemantik tersendiri bahwa sebetulnya para guru mampu untuk berdaya dan berkarya, berikut contoh Kelas Kolaborasi di TPN VII. Sedangkan pada Kelas Karier adalah kelas yang menjadi bukti profesi guru tidak terhenti menjadi guru saja atau paling tinggi menjabat sebagai Kepala Sekolah atau Pengawas, tetapi guru bisa mengembangkan karier dan meningkatkan kapasitas dirinya sesuai dengan kompetensi dan minatnya untuk lebih berkembang menjadi guru yang inovatif dan kreatif. Profesi yang bisa dikembangkanpun beragam, seperti karier protean menjadi seorang content creator, penulis naskah, pendongeng, dan karier protean lainnya. Bahkan Bapak Ibu guru & kepala sekolah juga bisa mendapat inspirasi program sekolah dari sekolah lain. Contoh program sekolahnya seperti berikut ini: Ayo belajar barengan, karena teknologi bukan menjadi hal yang perlu untuk ditakuti atau dihindari justru dengan teknologi inilah guru-guru bisa berkolaborasi, mengembangkan imajinasi dan ekspresi yang dimiliki guna menunjang pembelajaran yang kekinian penuh inovatif.  Baca juga: Guru akan Tergantikan Kecerdasan Buatan #BelajarDiTPN7 menjadi semangat tersendiri bagi guru-guru karena memberikan ruang belajar yang luas cakupannya, dan guru bisa mengeksplorasi dirinya kebutuhan apa yang diperlukan dan perlu ditingkatkan, serta menjadi ajang guru-guru untuk bisa saling kenal membuat jejaring untuk saling berkolaborasi dan berekspresi bersama. Terlihat dari cuplikan judul-judul kelas #BelajarDiTPN7, yang dilihat dari judulnya saja sudah menjadi daya tarik dan minat untuk belajar lebih dalam lagi. TPN VII yang diikuti oleh #1000pembicara dan sekitar 3640 peserta merupakan ajang pendidikan yang tidak bisa terlewatkan begitu saja, mengingat masih banyak guru-guru yang perlu kita jabat untuk belajar bersama. Masa pandemi bukan menjadi halangan tetapi menjadi bukti tantangan yang membawa perubahan positif dan maju untuk guru-guru lebih pe de akan kemampuan dan kompetensinya bahwa mereka bisa melahirkan generasi Alpha yang maju akan teknologi tetapi juga memiliki karakter yang bisa dibanggakan dan belajar daring atau luring tidak menjadi masalah sekarang. Kemajuan teknologi ini memunculkan peluang baru terhadap akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Jadi, mana yang akan Bapak/Ibu tingkatkan?Kompetensi Paedagogi, Penggunaan Teknologi, atau keduanya? Ayo menjadi guru pembelajar, guru yang tidak pernah lelah untuk belajar.

Menggerakkan Perubahan Bersama Jaringan Sekolah Madrasah Belajar

Tidak bisa dipungkiri bahwa Kepala Sekolah turut merasakan dan harus bisa memberikan solusi yang bisa dipraktikkan, seperti jumlah murid yang berkurang akibat adanya pandemi karena anak-anak yang kurang memiliki fasilitas yang menunjang untuk pembelajaran jarak jauh, pada beberapa sekolah terutama di daerah dimana jumlah guru dan anak-anak yang tidak sepadan atau sebaliknya, bahkan tidak adanya dukungan dari masyarakat di lingkungan sehingga sekolah kurang dapat  berkembang secara maksimal. Seperti yang kita ketahui, di dalam keluarga ada yang namanya Kepala Keluarga, sekolah mempunyai Kepala Sekolah, yayasan mempunyai Ketua Yayasan, perusahaan mempunyai Direktur, dan sebutan lainnya sebagai seorang pemimpin pada suatu lembaga atau organisasi. Seorang pemimpin dapat mempengaruhi suatu proses yang berjalan dan menjadi pemberi contoh bagi para anggotanya untuk dapat mencapai tujuan suatu organisasi. Pemimpin harus memiliki standar kualitas yang tinggi sehingga pemimpin itu sendiri yang akan memberikan contoh yang baik secara langsung dan nyata kepada anggotanya. Pandangan seorang pemimpin yang visioner dan realistis dapat mengalirkan suatu program kerja yang mendukung anggotanya untuk bisa saling bekerjasama untuk berdaya dan berkarya bersama. Namun, tak dipungkiri bahwa di dalam suatu organisasi atau lembaga jika di dalam dunia pendidikan seperti sekolah mengalami beberapa hambatan atau tantangan yang dihadapi oleh seorang pemimpin, terutama yang berkaitan dengan komunikasi. Seorang pemimpin harus memiliki jaringan komunikasi yang luas untuk memudahkan para anggotanya yaitu guru untuk memahami tujuan yang akan dicapai. Pemimpin juga harus mampu mendengarkan dengan cara memberikan kesempatan secara bijaksana untuk memahami kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh guru di sekolah. Maju mundurnya kondisi sekolah dan tinggi rendahnya kualitas pendidikan tidak lepas dari peran seorang pemimpin yaitu Kepala Sekolah. Bisa dikatakan Kepala Sekolah adalah nahkoda kapal dalam perubahan di sekolah yang dipimpinnya. Banyak tanggung jawab yang dipikul oleh Kepala Sekolah, yang menjadikan perlu adanya dukungan yang diberikan secara riil dan berkelanjutan bahwa Kepala Sekolah tidak bekerja sendiri, tetapi bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang menghasilkan dampak yang bisa dipraktikkan dan dibagikan secara luas. Bertepatan dengan Konferensi Tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar dan Yayasan Guru Belajar yaitu #BelajarDiTPNVII diluncurkan jaringan dengan nama “Jaringan Sekolah Madrasah Belajar” (JSMB). JSMB ini akan menjadi organisasi untuk bisa mewujudkan cita dan tujuan guru dan orang tua untuk berkolaborasi secara langsung dalam mendidik anak-anak, memberikan dukungan dengan mengoptimalkan guru dan murid untuk mencapai kemerdekaan belajar yang sesungguhnya, cuplikan penjelasan Pak Bukik mengenai pentingnya Jaringan Sekolah Merdeka Belajar. Mengutip apa yang telah dikatakan oleh Ibu Najelaa Shihab bahwa “Kemerdekaan Belajar adalah pondasi yang perlu menjadi bagian dari kompetensi dari semua individu yang menyatakan sebagai pendidik, dan memiliki kompetensi untuk saling berkolaborasi”. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar atau JSMB ini menjadi salah satu jembatan sekolah maupun madrasah untuk  melakukan perubahan pendidikan Indonesia dengan saling berkolaborasi dan bekerja sama. Sudah saatnya sekolah dan madrasah melakukan perubahan dengan menginisiasi, mengkonstruksikan program-program yang sudah berjalan secara konvensional selama bertahun-tahun bertransformasi menjadi program yang merdeka belajar melalui penggerak-penggerak, seperti pemimpin, guru dan orangtua. Sebagai tambahan #BelajarDiTPNVII Jaringan Sekolah Madrasah Belajar memiliki 3 tujuan utama yang telah dipaparkan oleh ketua JSMB secara langsung yaitu Bapak Muhammad Niamil Hida, yang pertama untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan di setiap lembaga; kedua mengembangkan kapasitas lembaga pendidikan beserta stakeholder; dan yang ketiga untuk meningkatkan jaringan-jaringan sekolah dan madrasah bisa saling berkolaborasi untuk perubahan pendidikan yang lebih berdampak terutama untuk murid-murid. Kegiatan Jaringan Sekolah Madrasah ini diharapkan menjadi jembatan untuk saling belajar,berdiskusi, bertukar pikiran, berkolaborasi termasuk para guru yang ingin mengembangkan karier sebagai pemimpin. Kegiatan JSMB dikembangkan dalam Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar, pelatihan, pendampingan, serta kolaborasi yang diciptakan oleh jejaring yang ada pada Jaringan Sekolah Madrasah Belajar. Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar (OPMB) sendiri sudah diadakan 26 kali obrolan secara live melalui kanal youtube Kampus Guru Cikal, OPMB ini merupakan sesi diskusi dengan para pemimpin yang membahas mengenai permasalahan yang dihadapi dan sharing mengenai praktik baik yang telah dilakukan di masing-masing lembaga atau sekolah yang dipimpin. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar diharapkan dapat menunjang para pemimpin dan guru untuk berkontribusi secara aktif dengan mengembangkan program-program merdeka belajar baik di dalam lingkup lembaga atau secara luas. Sekolah maupun madrasah menjadi awal gerakan perubahan dimulai, dengan memberikan kesempatan para pemimpin, guru, orang tua dan murid menjadi bagian dalam perubahan pendidikan melalui proses pembelajaran yang berlangsung selama di sekolah maupun secara mandiri di rumah, karena dengan saling keterlibatan tersebut akan adanya kesiapan program-program yang mendukung merdeka belajar dan siap menghadapi tantangan secara bersama. Tidak perlu ragu-ragu lagi untuk Sekolah atau Madrasah yang ingin menggerakkan perubahan, karena sudah ada wadah yang bisa menjembatani, jadi masih tunggu apalagi? Oleh karena itu, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar yang diinisiasi ini direalisasikan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak hanya sekolah tetapi madrasah juga akan memberikan kontribusinya, karena memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menggerakkan perubahan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Perubahan akan terjadi jika dilakukan secara kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri, perubahan yang dimulai dari pengembangan pada lingkup internal untuk dikembangkan secara eksternal melalui jaringan-jaringan yang sudah terbentuk. Kerja sama atau kolaborasi bisa diciptakan tidak hanya antar guru atau guru dengan pemimpin (kepala sekolah), tetapi kolaborasi bisa dilakukan dengan pihak diluar sekolah baik guru/pemimpin dari sekolah lain atau stakeholder sesuai dengan kompetensinya. Semakin banyak pihak yang terlibat menunjukkan tanda  suatu kemajuan   “Jadi untuk para pemimpin dan guru, bersiaplah menjadi bagian terpenting untuk berkolaborasi dan memberikan kontribusi terbaiknya melalui Jaringan Sekolah Madrasah Belajar”. Tunggu apalagi penggerak perubahan, jadilah bagian dari perubahan. Yuk bergabung bersama JSMB.Klik

Bermain Sambil Belajar, Perlukah?

Bermain sambil belajar. Hal ini sering dianggap sebagai solusi untuk agar tertarik belajar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk lihat percakapan berikut:A: “Si W ternyata setiap pulang sekolah kalau tidak ke warnet gim, ya ke rental playstation, pantas nilainya turun”B: “Lhah kalau Si X, Y, Z kata orangtua si X kalau di rumah suka main game di HP bersama di teras sampai maghrib, kewalahan buat memberi tahu”A: “Pantas nilai mereka turun, kapan belajarnya “ Familiar dengan percakapan ini?Kita mungkin pernah menyimpulkan bahwa murid lebih mementingkan hobi, atau bahkan bermain dibanding sekolahnya. Lalu guru tertentu justru menjadikan hobi murid, dan bermain sambil belajar sebagai media atau sumber belajar. Seperti yang bisa dilihat pada kolom komentar post instagram.com/kampusgurucikal ini View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Nov 3, 2019 at 4:19am PST Dari kolom komentar kita dapat temui guru yang bercerita pernah membahas permainan kesukaan murid, dan bahkan mengajak murid bermain sambil belajar di kelas. Namun sebenarnya perlukah kita memakai permainan di dalam kelas saat proses pengajaran? Pada Temu Pendidik Nusantara 26 Oktober 2019 yang lalu. Kampus Guru Cikal menyajikan topik “Aktivitas Belajar Bermakna Melalui Permainan Papan”. Kelas ini menjadi salah satu kelas kompetensi yang bisa dipilih peserta. Ada 27 orang termasuk 6 orang guru Jeneponto dari Program Playground of Ujung Pandang menjadi peserta kelas ini. Kami belajar mengurai miskonsepsi belajar melalui permainan. Belajar sambil bermain. Kita juga belajar menyusun pengajaran bermakna melalui permainan papan Jelajah Nusantara Edisi Ujung Pandang. Kelas ini dipandu oleh 2 orang pelatih, Guru Maman Basyaiban dan Guru Hadrawi. Guru Maman dari Kampus Guru Cikal sedangkan Guru Hadrawi dari Komunitas Guru Belajar Regional Sulawesi Selatan. Agar membangun keakraban antarpeserta yang juga berasal dari berbagai daerah. Di sesi awal pelatih mengajak bermain peserta melalui berkenalan dengan menyusun kalimat berima. “Perkenalkan nama saya Maman, saya suka menyiram tanaman”. Setelah mencari diksi yang tepat untuk kalimatnya, peserta “berburu.” Apa yang diburu? Peserta berburu untuk berkenalan satu sama lain. Muncullah kalimat seperti “Nama saya Misbah yang tetap Tabah”. Adapula “Saya biasa dipanggil Joko, dan saya orang jowo” dll. Usai perkenalan dan pembagian kelompok. Kelas dilanjutkan dengan drama dua cara pengajaran bermain sambil belajar dengan Tema Jual Beli. Peserta berperan sebagai murid, pelatih sebagai guru. Tidak hanya bertindak sebagai murid, peserta akan mendiskusikan perbedaan pengajaran 1 dan pengajaran 2 dari sudut pandang murid. Saat pengajaran satu, guru mengajak murid bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan bernyanyi lagu Naik Delman membentuk lingkaran. Sembari lagu dinyanyikan kartu bergambar barang-barang yang dijual di pasar diedarkan. Barang kemudian berpindah tangan antarmurid. Saat lagu berhenti maka kartu yang dipegang adalah kartu yang didapat murid. Guru kemudian mengajak murid menulis barang yang didapat sesuai gambar di kartu. Guru meminta murid secara acak untuk segera mengumpulkan tugas dengan batasan waktu 3 menit. Berpindah ke pengajaran 2. Guru membuka kelas dengan menanyakan aktivitas apa yang sering dilakukan saat di rumah. Murid menyebutkan berbagai aktivitas dari bermain, berkumpul keluarga, hingga dimintai tolong orang tua. Obrolan guru murid ini berlanjut pada topik membantu orangtua, hingga guru mengajak murid melakukan bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan kartu membantu orangtua belanja. Pemain harus menghapal daftar belanjaan dari kartu yang teks dan gambarnya berbeda. Selesai permainan guru mengajak murid mendiskusikan. “Apa yang sulit saat berbelanja dalam permainan?” Murid mengatakan lupa daftar belanja. Guru pun meminta murid berdiskusi bagaimana tips agar bisa belanja dengan baik. Beragam jawaban dipresentasikan oleh murid. Dari mengucap berulang, fokus, membawa catatan, membawa contoh barang dll. Guru dan murid memberikan umpan balik atas jawaban yang muncul. Setelah mengalamai dua cara pengajaran dengan permainan. Peserta pelatihan mengidentifikasi perbedaan dari pikiran, perasaan, perilaku murid. Peserta pun menyatakan bahwa cara pengajaran 1 bagian seru hanya di awal saat menyanyi. Namun pengajaran 1 saat penugasan tidak dikoreksi. “Guru memburu-buru pengerjaan tugasnya jadi kadang takut.” “Tugas akhirnya hanya begitu saja.” Sedangkan di pengajaran 2 permainan mengajak murid merasa tertantang. Murid boleh berpikir menemukan cara sendiri untuk solusi permasalahan yang ada sehari-hari. Peserta menyepakati bahwa pengajaran nomor 2 adalah pengajaran dengan bermain yang bermakna. Kelas berlanjut dengan diskusi bagaimana desain strategi belajar dengan permainan yang bermakna. Peserta menyusun puzzle kanvas desain pengajaran. Puzzle disusun di kelompok masing-masing kemudian dipresentasikan. Diskusi begitu dinamis. Beberapa peserta menyusun sambil berargumen dengan memaparkan struktur RPP. Adapula yang mengurutkan dengan alur aktivitas yang biasa dilakukan saat merancang RPP. Di tengah diskusi, bapak Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Datang mengunjungi kelas kami. Beliau ingin mendengar apa yang dirasakan para guru di daerah masing-masing.”Ketika harus mengurus berkas ke provinsi, kadang harus meninggalkan kelas, karena jarak dari sekolah ke provinsi sampai lebih dari 3 jam, belum lagi jika mengurusnya tidak bisa sehari jadi.” Ujar Guru Vivi dari Pesisir Selatan. Dengan antusias kami kemudian melakukan foto bersama. Ada peserta yang mengatakan “Saya pasang foto ini di medsos, kemudian diberi komentar, jadi orang Jeneponto pertama berfoto dengan Mas Menteri yang baru dilantik”. Belajar Memandu Permainan Papan menjadi topik selanjutnya. Peserta mempelajari panduan permainan. Secara bergantian mencoba menjadi pemain dengan pemandu yang berbeda antarkelompok. Pada percobaan pertama beberapa pemandu nampak langsung mengeluarkan semua komponen permainan papan dan menjelaskannya. Peserta tampak menunggu, karena permainan tidak segera dimulai. Pada percobaan kedua, semakin banyak pemandu yang fokus mengikuti alur yang ada pada panduan pemainan. Selesai bermain kami melakukan refleksi. Kondisi apa yang membingungkan peserta? Penjelasan seperti apa yang akhirnya membuat paham? Salah satu peserta mengatakan “Tadi saya bingung, karena melihat pemandu membolak-balik komponen, mengeluarkan semuanya, namun belum dipakai. Pemandunya bingung pemainnya ikut bingung. Sedangkan kami jadi paham ketika pemandu tidak buru-buru dan menjelaskan alurnya satu persatu.” Kami kemudian membuat simpulan Tips Memandu Permainan Papan dengan tabel tampak seperti dan tidak tampak seperti. Selesai sesi memandu permainan papan, peserta menanyakan lebih lanjut tentang permainan papan Jelajah Nusantara. Kita membahas tentang ilustrasi yang dibuat murid-murid Cikal, serta tokoh yang ada dalam permainan. Guru Syam, peserta dari Jeneponto ikut berbicara “Kami orang Sulawesi jadi tahu, tentang Karaeng Pattingalloang, ternyata ada raja dari Gowa-Tallo yang cinta pengetahuan, tadi saya juga mengabarkannya lewat chat ke teman-teman guru yang lain tentang tokoh ini.” Permainan ini menjadi media yang dibongkar … Read more

Harapan Menuju Merdeka Belajar

Keberhasilan pendidikan tidak mutlak berada di tangan guru. Tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa guru memegang peranan penting. Keberhasilan pendidikan akan mudah dicapai apabila tercipta Merdeka Belajar. Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka perlu pemahaman tentang Merdeka Belajar. Setelah aktif mengikuti akun media sosial  Kampus Cikal Guru, saya tergerak untuk bergabung membuat perubahan menuju Merdeka Belajar. Khususnya di daerah tempat tinggal saya, yaitu di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Sebagai langkah awal, saya mengajak guru-guru di Langkat untuk nonton bareng video motivasi dari Kampus Cikal Guru. Ajakan saya tujukan kepada guru-guru yang mengajar di sekolah tempat saya mengajar. Undangan untuk nonton bareng juga saya sebarkan melalui grup MGMP IPS Langkat, sesuai mapel yang saya ampu. Guru-guru di sekolah kami sangat antusias untuk nonton bareng. Hal tersebut menjadi cambukan semangat buat saya. Sementara guru-guru yang tergabung dalam MGMP IPS Langkat, tidak hadir. Karena keterbatasan jarak dan waktu. Acara nonton bareng diadakan pada hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2019. Saya sebagai tuan rumah menjadi moderator pada Temu Pendidik ini.  Untuk bantuan teknis dukungan diberikan oleh operator sekolah. Kegiatan nonton bareng ini diadakan di aula kantor guru di SMP Negeri 2 Tanjung Pura. Setelah banyak guru yang sudah berkumpul, acara langsung saya mulai. Sebagai kata-kata pembuka, saya menggugah rasa ingin tahu peserta nonton bareng. Sebagian besar peserta tergelitik mendengar judul Merdeka Belajar. Mereka menduga, kegiatan ini terkait dengan HUT RI ke 74. Karena kegiatan ini diadakan bertepatan dengan momen peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagian besar peserta berpendapat bahwa “Merdeka” berarti bebas dari penderitaan.  Dan “Merdeka Belajar” mereka tafsirkan sebagai kebebasan dalam belajar yang tanpa aturan. Ibu Umi Hidayah, Guru mapel Matematika, mengatakan : “Merdeka Belajar berarti libur, tidak ada pembelajaran.” Dan hal tersebut mengundang gelak tawa peserta yang lain. Pemutaran video pun segera dimulai. Saya ajak peserta untuk menyaksikan video dengan seksama dan meresapi setiap kata-kata ibu Najelaa Shihab selaku pembicara dalam video tersebut.  Setelah video selesai diputar, sebagian besar peserta mengungkapkan sedikit kekecewaan. Karena video yang ditayangkan terasa sangat singkat. Mereka butuh lebih banyak penjelasan. Mereka butuh contoh konkrit untuk mewujudkan “Merdeka Belajar”. Mereka menyadari banyak miskonsepsi yang mereka lakukan selama ini. Terlihat dari gerak mulut dan sedikit suara “Oo…” pada saat mereka menonton bagian miskonsepsi. Pada sesi refleksi, saya mengajak peserta untuk kembali mengingat miskonsepsi  yang dijelaskan dalam video. Lalu saya bertanya kepada mereka :” Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?”. Beberapa peserta mempunyai jawaban yang sama yaitu belajar perlu insentif eksternal. Sebagai pembelajar Andragogi, guru perlu motivasi yang dianggap menguntungkan secara ekonomi agar mau belajar. Dan melalui forum nonton bareng ini, mereka menyadari bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Mereka bersedia hadir mengikuti kegiatan nonton bareng tanpa imbalan insentif ataupun sertifikat. Mereka aktif mengikuti sesi refleksi dan tanya jawab. Tanpa mereka sadar bahwa kegiatan ini juga merupakan suatu pembelajaran. Pak Gunawan, wakil kepala sekolah berkata: “Miskonsepsi yang paling menggambarkan diri saya yaitu beranggapan bahwa kompetensi bersifat individual. Karena karakteristik manusia itu berbeda-beda. Dan pastinya tingkat kompetensinya juga berbeda.” Pernyataan Pak Gunawan ditanggapi oleh Pak Syufri Effendi, guru mapel Bahasa Inggris, “ Saya juga sependapat dengan Pak Gunawan. Apalagi dengan pernyataan bahwa Guru adalah kunci. Saya rasa hal itu  benar. Tanpa guru, maka pendidikan tidak akan berhasil, maka guru adalah kuncinya”. Saya memberi tanggapan terhadap pernyataan mereka. Jika guru adalah kunci, berarti output pendidikan yang dihasilkan menjadi tanggung jawab guru. Jika baik hasilnya, berarti kuncinya baik. Jika buruk hasilnya, maukah guru dikatakan tidak baik? Mereka serempak menjawab.”Tidak!!”. Oleh karena itu, saya ajak peserta untuk bersama memahami miskonsepsi yang selama ini terjadi. Dan berusaha untuk merubah miskonsepsi tersebut. Dalam video dijelaskan bahwa ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar, dan Melakukan refleksi. Sebagian besar peserta setuju dengan pernyataan tersebut. Karena ketiga hal tersebut merupakan kunci menjadi guru yang baik bagi sebagian besar peserta.  Namun ada tantangan di balik pernyataan mereka. Tantangan yang sedikit menciutkan semangat saya untuk melakukan perubahan. Mereka beranggapan bahwa usia merupakan hambatan menuju Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta adalah guru yang sudah mengabdi puluhan tahun di sekolah kami. Mereka mendukung gerakan Guru Merdeka Belajar. Tetapi mereka pesimis dengan kemampuan mereka. Karena usia yang sudah tidak muda lagi. Dan tidak cakap dalam penguasaan IT. Mereka sudah beberapa kali mengikuti pelatihan untuk mengasah kompetensi pedagogik maupun profesional. Hasilnya hanya beberapa yang mereka terapkan dalam proses pembelajaran. Dan akhirnya kembali ke metode pengajaran konvensional. Karena rasa pesimis yang begitu besar. Walau kadar semangat menurun, saya berusaha bangkit. Kembali menyampaikan motivasi bagi mereka. Saya kaitkan dengan pernyataan pembicara dalam video.  Saya harus yakin bahwa ada setitik asa untuk mewujudkan perubahan dalam pola pikir mereka. Salah satu nya yaitu kesediaan mereka untuk hadir dalam forum ini. Dan juga dukungan dari beberapa orang guru baru di sekolah kami. Kehadiran 4 orang guru baru di sekolah kami, membawa angin segar dalam mewujudkan gerakan Guru Merdeka Belajar. Selain karena usia yang masih muda, semangat mereka juga masih menyala. Mereka menyatakan ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Bu Risma Muntia dan Pak Surya Aldi menyatakan kesiapan mereka menjadi Guru Merdeka Belajar. Alasan Bu Risma adalah karena dirinya belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia pendidikan, sehingga ingin sekali belajar lebih banyak lagi. Sementara alasan Pak Surya ingin menjadi Guru Merdeka Belajar adalah karena dia ingin siswanya merasakan Merdeka Belajar. Belajar tanpa paksaan. Bu Wahyuni Hasibuan berkata: ”Saya sangat ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Saya akan berusaha membuat teknik mengajar yang menyenangkan. Dan menyelipkan ice breaking di sela-sela pembelajaran. Sehingga siswa tidak jenuh.” Sementara Pak Edy Hermawan menyatakan akan menciptakan suasana kelas yang nyaman, bersih dan indah. Sehingga siswa betah belajar dalam ruangan. Dia juga akan membuat pojok baca di dalam kelas, yang didesain unik dan menarik. Sehingga memotivasi siswa untuk tertarik berliterasi. Mendengar pernyataan dari beberapa guru baru tersebut, sedikit mengubah mindset guru yang lain. Terlihat dari pernyataan Bu Debbie Sukraini yang bertanya  tentang kelanjutan kegiatan ini. Apabila ada forum lanjutan ataupun komunitas penggerak Guru Merdeka Belajar, ia bersedia untuk bergabung. Bu Zulfah Riza juga menyatakan kesediaannya untuk mengikuti forum lanjutan. Dan akan menyebarkan informasi … Read more