Bermain Sambil Belajar, Perlukah?

Bermain sambil belajar. Hal ini sering dianggap sebagai solusi untuk agar tertarik belajar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk lihat percakapan berikut:A: “Si W ternyata setiap pulang sekolah kalau tidak ke warnet gim, ya ke rental playstation, pantas nilainya turun”B: “Lhah kalau Si X, Y, Z kata orangtua si X kalau di rumah suka main game di HP bersama di teras sampai maghrib, kewalahan buat memberi tahu”A: “Pantas nilai mereka turun, kapan belajarnya “ Familiar dengan percakapan ini?Kita mungkin pernah menyimpulkan bahwa murid lebih mementingkan hobi, atau bahkan bermain dibanding sekolahnya. Lalu guru tertentu justru menjadikan hobi murid, dan bermain sambil belajar sebagai media atau sumber belajar. Seperti yang bisa dilihat pada kolom komentar post instagram.com/kampusgurucikal ini View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Nov 3, 2019 at 4:19am PST Dari kolom komentar kita dapat temui guru yang bercerita pernah membahas permainan kesukaan murid, dan bahkan mengajak murid bermain sambil belajar di kelas. Namun sebenarnya perlukah kita memakai permainan di dalam kelas saat proses pengajaran? Pada Temu Pendidik Nusantara 26 Oktober 2019 yang lalu. Kampus Guru Cikal menyajikan topik “Aktivitas Belajar Bermakna Melalui Permainan Papan”. Kelas ini menjadi salah satu kelas kompetensi yang bisa dipilih peserta. Ada 27 orang termasuk 6 orang guru Jeneponto dari Program Playground of Ujung Pandang menjadi peserta kelas ini. Kami belajar mengurai miskonsepsi belajar melalui permainan. Belajar sambil bermain. Kita juga belajar menyusun pengajaran bermakna melalui permainan papan Jelajah Nusantara Edisi Ujung Pandang. Kelas ini dipandu oleh 2 orang pelatih, Guru Maman Basyaiban dan Guru Hadrawi. Guru Maman dari Kampus Guru Cikal sedangkan Guru Hadrawi dari Komunitas Guru Belajar Regional Sulawesi Selatan. Agar membangun keakraban antarpeserta yang juga berasal dari berbagai daerah. Di sesi awal pelatih mengajak bermain peserta melalui berkenalan dengan menyusun kalimat berima. “Perkenalkan nama saya Maman, saya suka menyiram tanaman”. Setelah mencari diksi yang tepat untuk kalimatnya, peserta “berburu.” Apa yang diburu? Peserta berburu untuk berkenalan satu sama lain. Muncullah kalimat seperti “Nama saya Misbah yang tetap Tabah”. Adapula “Saya biasa dipanggil Joko, dan saya orang jowo” dll. Usai perkenalan dan pembagian kelompok. Kelas dilanjutkan dengan drama dua cara pengajaran bermain sambil belajar dengan Tema Jual Beli. Peserta berperan sebagai murid, pelatih sebagai guru. Tidak hanya bertindak sebagai murid, peserta akan mendiskusikan perbedaan pengajaran 1 dan pengajaran 2 dari sudut pandang murid. Saat pengajaran satu, guru mengajak murid bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan bernyanyi lagu Naik Delman membentuk lingkaran. Sembari lagu dinyanyikan kartu bergambar barang-barang yang dijual di pasar diedarkan. Barang kemudian berpindah tangan antarmurid. Saat lagu berhenti maka kartu yang dipegang adalah kartu yang didapat murid. Guru kemudian mengajak murid menulis barang yang didapat sesuai gambar di kartu. Guru meminta murid secara acak untuk segera mengumpulkan tugas dengan batasan waktu 3 menit. Berpindah ke pengajaran 2. Guru membuka kelas dengan menanyakan aktivitas apa yang sering dilakukan saat di rumah. Murid menyebutkan berbagai aktivitas dari bermain, berkumpul keluarga, hingga dimintai tolong orang tua. Obrolan guru murid ini berlanjut pada topik membantu orangtua, hingga guru mengajak murid melakukan bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan kartu membantu orangtua belanja. Pemain harus menghapal daftar belanjaan dari kartu yang teks dan gambarnya berbeda. Selesai permainan guru mengajak murid mendiskusikan. “Apa yang sulit saat berbelanja dalam permainan?” Murid mengatakan lupa daftar belanja. Guru pun meminta murid berdiskusi bagaimana tips agar bisa belanja dengan baik. Beragam jawaban dipresentasikan oleh murid. Dari mengucap berulang, fokus, membawa catatan, membawa contoh barang dll. Guru dan murid memberikan umpan balik atas jawaban yang muncul. Setelah mengalamai dua cara pengajaran dengan permainan. Peserta pelatihan mengidentifikasi perbedaan dari pikiran, perasaan, perilaku murid. Peserta pun menyatakan bahwa cara pengajaran 1 bagian seru hanya di awal saat menyanyi. Namun pengajaran 1 saat penugasan tidak dikoreksi. “Guru memburu-buru pengerjaan tugasnya jadi kadang takut.” “Tugas akhirnya hanya begitu saja.” Sedangkan di pengajaran 2 permainan mengajak murid merasa tertantang. Murid boleh berpikir menemukan cara sendiri untuk solusi permasalahan yang ada sehari-hari. Peserta menyepakati bahwa pengajaran nomor 2 adalah pengajaran dengan bermain yang bermakna. Kelas berlanjut dengan diskusi bagaimana desain strategi belajar dengan permainan yang bermakna. Peserta menyusun puzzle kanvas desain pengajaran. Puzzle disusun di kelompok masing-masing kemudian dipresentasikan. Diskusi begitu dinamis. Beberapa peserta menyusun sambil berargumen dengan memaparkan struktur RPP. Adapula yang mengurutkan dengan alur aktivitas yang biasa dilakukan saat merancang RPP. Di tengah diskusi, bapak Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Datang mengunjungi kelas kami. Beliau ingin mendengar apa yang dirasakan para guru di daerah masing-masing.”Ketika harus mengurus berkas ke provinsi, kadang harus meninggalkan kelas, karena jarak dari sekolah ke provinsi sampai lebih dari 3 jam, belum lagi jika mengurusnya tidak bisa sehari jadi.” Ujar Guru Vivi dari Pesisir Selatan. Dengan antusias kami kemudian melakukan foto bersama. Ada peserta yang mengatakan “Saya pasang foto ini di medsos, kemudian diberi komentar, jadi orang Jeneponto pertama berfoto dengan Mas Menteri yang baru dilantik”. Belajar Memandu Permainan Papan menjadi topik selanjutnya. Peserta mempelajari panduan permainan. Secara bergantian mencoba menjadi pemain dengan pemandu yang berbeda antarkelompok. Pada percobaan pertama beberapa pemandu nampak langsung mengeluarkan semua komponen permainan papan dan menjelaskannya. Peserta tampak menunggu, karena permainan tidak segera dimulai. Pada percobaan kedua, semakin banyak pemandu yang fokus mengikuti alur yang ada pada panduan pemainan. Selesai bermain kami melakukan refleksi. Kondisi apa yang membingungkan peserta? Penjelasan seperti apa yang akhirnya membuat paham? Salah satu peserta mengatakan “Tadi saya bingung, karena melihat pemandu membolak-balik komponen, mengeluarkan semuanya, namun belum dipakai. Pemandunya bingung pemainnya ikut bingung. Sedangkan kami jadi paham ketika pemandu tidak buru-buru dan menjelaskan alurnya satu persatu.” Kami kemudian membuat simpulan Tips Memandu Permainan Papan dengan tabel tampak seperti dan tidak tampak seperti. Selesai sesi memandu permainan papan, peserta menanyakan lebih lanjut tentang permainan papan Jelajah Nusantara. Kita membahas tentang ilustrasi yang dibuat murid-murid Cikal, serta tokoh yang ada dalam permainan. Guru Syam, peserta dari Jeneponto ikut berbicara “Kami orang Sulawesi jadi tahu, tentang Karaeng Pattingalloang, ternyata ada raja dari Gowa-Tallo yang cinta pengetahuan, tadi saya juga mengabarkannya lewat chat ke teman-teman guru yang lain tentang tokoh ini.” Permainan ini menjadi media yang dibongkar … Read more

Ikuti Temu Pendidik Nusantara, Guru Murid Penyandang Disabilitas Dapatkan Beasiswa Penuh Nusantarun

Apa yang terjadi jika ada orang yang benar-benar  haus, ia menginginkan segelas es teh manis, tetapi yang ada dihidangkan di meja hanya gulai ayam berkuah santan kental ? Orang itu tentu saja tidak akan menikmati sajian gulai tersebut. Beranjak dari meja gulai, ia pergi ke meja berikutnya untuk mencari pelepas dahaga yang ia butuhkan. Lagi-lagi, yang ia temukan hanyalah lauk pepes pindang, tempe mendoan dan tongseng kambing. Orang tersebut lantas frustasi. Ia makan sajian yang dihidangkan di meja. Meskipun ia telah melahap banyak hidangan, rasa hausnya tak juga sirna. Ia pasrah, karena ia tak dapat memilih makanan apa yang ia mau. Kondisi tersebut merupakan analogi dari pelatihan guru yang selama ini didapatkan oleh guru. Selama ini pelatihan yang didapat hanya bertema seputar kurikulum, perangkat pembelajaran yang sebenarnya kurang dibutuhkan oleh guru. “Selama ini pelatihan hanya berkisar seputar kurikulum. Padahal yang kami butuhkan adalah bagaimana cara untuk memperbaiki pembelajaran di kelas” ujar Dyah Erna, guru SLB Tawangsari Jawa Tengah. Berangkat dari permasalahan tersebut, Guru-guru Guru BK SMA/SMK/SLB  asal Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam Program Pendidikan Untuk Semua diberangkatkan menuju Temu Pendidik Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta, 25-28 Oktober 2019 melalui jalur Beasiswa Nusantarun. Program Pendidikan Untuk Semua merupakan project kolaborasi antara Nusantarun bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru Di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mempersiapkan karier murid penyandang disabilitas di masa depan. Ada sekitar 125 guru yang terlibat dalam program ini melalui mekanisme seleksi yang panjang. Dari keseluruhan peserta, selanjutnya dipilih 28 peserta yang diberangkatkan untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. 28 peserta tersebut mendapat beasiswa penuh dari Program Pendidikan Untuk Semua untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN). Beasiswa tersebut meliputi biaya Tiket TPN, Akomodasi, Transportasi dari daerah asal dan selama di Jakarta. Pagi masih buta kala itu, semua peserta TPN dari Program Beasiswa Nusantarun melanjutkan perjalanan ke Wisma Handayani di daerah Cilandak, tempat penginapan yang disediakan oleh panitia Penyelenggara TPN. Antusiasme peserta terlihat di raut wajah seluruh peserta. Pendamping Program Pendidikan untuk semua, Rofiqoh Nur Istiqomah dan Winda Dyah Uningrumjati menyambut peserta di Wisma Handayani. Rofiqoh dan Winda memberikan pengarahan singkat mengenai rundown acara esok hari dan memberikan informasi bahwa peserta harus segera bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi TPN. Selepas subuh, antuasiasme peserta sangat tinggi, terbukti mereka berkumpul di lobby tepat waktu. Mereka kemudian terbagi menjadi 2 rombongan dengan 2 shuttle bus yang berbeda. Rombongan guru Tingkat Pendidikan Dasar (SD) dan Guru Tingkat Pendidik Menengah (SMP dan SMA/SMK). Rombongan Tingkat Dasar diantar shuttle bus ke Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan. Rombongan kedua diantar shuttle bus Ke Sekolah Cikal Setu, Jakarta Timur menggunakan shuttle bus. Tahun ini antusiasme peserta TPN yang mengangkat tema “Literasi Menggerakkan Negeri” begitu luar biasa. TPN diikuti oleh 1000 peserta yang berasal dari 120 daerah di Indonesia. Ada 4 jenis kelas yang dapat diikuti peserta : Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier. Dari Empat jenis kelas tersebut, ada ratusan kelas yang bisa dipilih peserta sesuai kebutuhan masing-masing. Uniknya lagi, hampir seluruh pembicara di TPN adalah guru yang siap berbagi praktik baik pembelajaran. Jadi ilmu yang dibagikan tidak melulu tentang teori, tetapi ilmu dari hasil pengalaman guru-guru di lapangan yang langsung dapat di praktikkan oleh peserta.         Hari pertama TPN terdapat 3 jenis kelas yang dapat diikuti peserta. Ada Kelas Kemerdekaan, Kelas Kolaborasi dan Kelas Kompetensi. Kelas Kemerdekaan ialah kelas yang memantik inspirasi peserta untuk menemukan kebutuhan belajarnya. Kelas Kolaborasi adalah kelas yang berkolaborasi dengan sesama pendidik, komunitas, maupun perusahaan. Kelas kolaboKelas kompetensi adalah kelas yang membantu guru mengembangkan kompetensinya. Zuzina Nur Susanti, Guru SLBN Negeri Sukoharjo Jawa Tengah yang merupakan peserta TPN jalur beasiswa Nusantarun mengaku sangat senang menjadi bagian dari TPN 2019. “Baru kali ini mengikuti pelatihan guru yang ia dapat merdeka belajar dengan memilih topik kelas sesuai kebutuhan mengajar saya di kelas” ujarnya. Ia memilih  kelas Asesmen Pengajaran Merdeka Belajar. Ia berharap ilmu yang ia dapat di TPN dapat ia gunakan sebagai dasar asesmen pemetaan peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah tempat Ia mengajar. Sejalan dengan yang dirasakan oleh Zuzina, Kadiyono juga senang sekali dapat belajar di TPN. Guru SLB Kendal ini memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhanya agar dapat melakukan pembelajaran yang lebih inovatif kepada siswa-siswa nya. Ia memilih kelas Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan (Board Game) Antusiasme peserta meningkat saat mengetahui kehadiran Nadiem Makarim di hari pertamanya setelah ia dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia hadir ditengah-tengah guru dan mendengar aspirasi langsung dari guru. Moment ini dimanfaatkan oleh para guru untuk menyampaikan aspirasi seputar pendidikan. Hari Kedua TPN merupakan acara puncak TPN. Najeela Shihab memberikan inspirasi dan suntikan semangat kepada lebih dari 1000 guru pada acara puncak TPN. Acara ini diiringi oleh berbagai pertuntukkan seni yang dibawakan oleh murid-murid sekolah cikal. Seusai acara puncak, acara dilanjutkan dengan kelas karier yang dapat dipilih peserta sesuai kebutuhan belajar masing-masing peserta. Ada beberapa pilihan yang dapat dipilih peserta saat mengikuti kelas karier, diantaranya, Membangun Layanan, Membangun kelas, Guru berdaya dengan menulis buku, & permainan untuk mengembangkan karier guru. Sore hari setelah kelas puncak dan kelas karier, Peserta TPN Beasiswa Nusantarun kembali ke daerah masing-masing dengan gelas terisi penuh. Mereka merasa senang karena telah terbuka wawasanya. Mengisi penuh gelas yang mereka sebelumnya mereka kosongkan dengan suntikan energi dan inspirasi. Meninggalkan Jakarta naik kereta dari stasiun Pasar Senen, mereka berjanji tidak akan meninggalkan kenangan mengikuti TPN hanya di memori saja. Tetapi mereka siap berbagi pengalaman kepada guru-guru di daerah masing-masing. Tak hanya itu, melalui pembelajaran TPN, mereka semakin memiliki bekal untuk mempersiapkan karier dan masa depan peserta didik berkebutuhan khusus.

Kunci Pengembangan Guru di Wardah Inspiring Teacher 2019

Namanya Ernawati, beliau adalah guru SMP 1 Wates, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Guru Erna merupakan salah satu peserta program Wardah Inspiring Teacher 2019 yang diadakan di Yogyakarta. Saat kegiatan berlangsung, Guru Erna tampak antusias mengikuti sesi belajar berempati dengan murid sebelum membuat media ajar. Beberapa kali menyampaikan pendapatnya, antusias menyampaikan idenya, dan lincah bergerak saat pelatihan. Hal yang membuat kami kaget adalah ketika mengetahui beliau sudah berusia 53 tahun dan masih menjalani serangkaian perawatan penyakit kankernya. Apa sebenarnya yang bisa membuat guru Ernawati bisa antusias mengikuti program? Kalau di Kampus Guru Cikal, kami percaya 4 kunci pengembangan guru : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier.  Kampus Guru Cikal dan Wardah diawal sepakat bahwa kegiatan Wardah Inspiring Teacher bukan kegiatan kompetisi antarguru. Tidak ada arahan pada guru untuk mengalahkan guru yang lain, tapi lebih pada arahan agar guru menetapkan dan mencapai penguasaan kompetensi yang lebih tinggi. Tidak ada sogokan dan hukuman bagi guru agar termotivasi mengikuti program, tapi lebih pada kesempatan lebih pada guru yang belajar lebih cepat dan dukungan pada guru yang butuh waktu belajar lebih banyak. Peserta mengikuti kegiatan bukan karena ada hadiahnya, bukan karena perintah dari atasan, namun karena kemauan dari diri sendiri. Inilah yang disebut kunci Kemerdekaan.  Kemerdekaan, itulah yang menjadi alasan mengapa guru Ernawati semangat mengikuti kegiatan Wardah Inspiring Teacher. Guru Erna sadar akan tujuan, tahu tujuan belajarnya, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, tidak cepat menyalahkan keadaan dan selalu mencari cara yang lebih efektif mencapai tujuan. Dalam pelatihan Wardah Inspiring Teacher, Kampus Guru Cikal di awal pelatihan tidak langsung memberikan materi tentang “Bagaimana Membuat Media Ajar A, B, atau C?” . Kami mengajak peserta untuk memahami “Why”-nya. Kami ajak peserta untuk bisa berempati kepada murid. “Jika kondisi muridnya seperti ini, media seperti apa yang sesuai?” Karenanya, guru bisa lebih inovatif di beragam situasi. Karena kompetensi harus bisa ditunjukkan di mana saja, kepada murid yang bagaimana dan dalam hal mengerjakan apa. Dari sini kami melihat beragam media yang diciptakan peserta. Guru Wahyu Hidayat seorang guru Sekolah Menengah Atas membuat papan permainan yang terinspirasi dari game online yang marak dimainkan remaja. Papan permainan tersebut dibuat karena banyaknya murid yang lebih tertarik bermain game online daripada mengikuti pengajarannya. Guru Helvira membuat buku untuk meningkatkan kemampuan fungsional murid-murid berkebutuhan khusus yang diajarnya. Guru Anas membuat alat yang membantu murid SD yang diajarnya memahami dengan mudah langkah-langkah berwudhu. Guru Anggi yang mengamati muridnya lebih suka bergaul dengan tukang mainan daripada gurunya, oleh karenanya, kemudian ia memulai menciptakan permainan untuk muridnya. Guru Dina melihat banyak murid yang lebih suka audio visual, oleh karena itu ia membuat film dokumenter dalam materi biografi. Guru-guru tersebut alih-alih menyalahkan muridnya, memilih untuk mencari cara agar muridnya bisa belajar. Dalam proses pembuatan media, kami mengajak peserta untuk membuat prototipenya terlebih dahulu. Dari prototipe tersebut kemudian diuji cobakan kepada peserta lainnya, murid, dan lainnya. Dari hasil uji coba, didapatkan beberapa umpan balik yang kemudian digunakan guru-guru peserta program sebagai acuan memperbaiki media yang dibuatnya. Kolaborasi inilah yang membuat media yang awalnya biasa saja, bisa lebih baik. Masukkan guru lain, murid bahkan narasumber ahli membantu guru dalam menyempurnakan medianya. “Murid-muridku merasa permainannya kurang menantang, cepat selesai” “Lagu ciptaanku buat pengajaran ternyata sekadar membantu murid menghafal, sehingga perlu dikombinasikan agar bisa lebih bermakna.” “Ide media ajar yang aku buat prototipenya dipoles oleh temanku seorang desainer grafis.” Pengalaman kolaborasi ini membuat guru mendapat inspirasi dan praktik baik yang sudah teruji.  Kunci pengembangan guru yang keempat adalah karier.  Selama ini karier yang tersedia melalui jalur formal adalah kepala sekolah, itupun terbatas tidak untuk semua guru. Kami di Kampus Guru Cikal mendorong karier guru yang protean. Guru bisa terus menjadi guru, tetapi juga mengembangkan karier di bidang yang beragam. Guru bisa menjadi pelatih guru lain, penulis, pembuat media ajar, pendongeng, dsb.  Di Wardah Inspiring Teacher 2019 ini, Kampus Guru Cikal merancang kegiatan Temu Inovasi yaitu kegiatan pameran media guru. Harapannya dari pameran ini, banyak guru yang mulai berinisiatif mengembangkan kariernya walaupun kegiatan Wardah Inspiring Teacher sudah selesai.  “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Anda sudah siap untuk Wardah Inspiring Teacher 2020?

Temu Inovasi Karya : Langkah Awal Meniti Karier Guru

Saya pernah mengikuti lomba guru berprestasi dan menjuarai kejuaraan tersebut. Namun setelah saya mendapat piala dan beberapa hadiah, tidak ada proses setelah itu. Apa yang saya ciptakan sekadar untuk lomba tersebut. Lomba selesai, kegiatan berinovasi selesai. Membuat inovasi pengajaran lagi ketika ada lomba lagi. Seakan inovasi pengajaran bukan berdasar kepada kebutuhan belajar murid, tapi keinginan saya mendapat piala. Saya tidak memiliki kemerdekaan dalam merancang inovasi pengajaran, saya hanya fokus kepada track record juri, sejarah pemenang inovasi pengajaran tahun-tahun sebelumnya, hadiah yang jumlahnya tentu tidak sedikit.  Saat Kampus Guru Cikal diajak Wardah untuk merancang Wardah Inspiring Teacher 2019 hal yang paling pertama dibicarakan adalah bagaimana agar kegiatan ini dihilangkan kesan kompetisinya. Maka sedari awal walau ada hadiah studi banding ke New Zealand bagi 2 guru di akhir program, kami tidak pernah menyampaikan hal tersebut. Kami ingin guru yang mengikuti program ini bukan semata-mata karena hadiahnya. Awalnya sih sangsi, apakah kegiatan tanpa iming-iming dan akan berlangsung cukup lama (Maret – September) peserta akan bertahan hingga akhir? Jangan-jangan di tengah peserta berguguran dan tidak melanjutkan hingga akhir program? Proses demi proses kami jalani, dari pelatihan dasar yang mana guru diajak berempati kepada murid untuk membuat media. Pra pelatihan lanjutan, guru dikenalkan kepada berbagai jenis media, canvas media ajar hingga diajak untuk membuat prototipe. Menariknya pada pra pelatihan lanjutan ini dilakukan secara online, namun peserta masih saja antusias mengikuti dan mengirimkan tugas demi tugas. Dilanjutkan pelatihan lanjutan mengenai validasi karya. Peserta diajak membuat poin-poin penilaian dari karya yang dibuat, dan melakukan uji coba kepada beberapa pihak, terutama kepada murid. Dari proses uji coba ini membuat media yang dibuat guru peserta program mendapat umpan balik baik dari narasumber ahli, murid, dsb. Tidak disangka sampai tahap akhir ada sekitar 60 guru yang masih bertahan. Kami melihat 60 guru ini mewakili guru-guru yang memiliki kemerdekaan. Mereka sadar akan tujuan, merasa apa yang dilakukan sesuai kebutuhan belajar. Bukan semata-mata karena hadiahnya.  Di sesi akhir sebagai apresiasi, kami undang sekitar 40 guru untuk melakukan pameran karya di Temu Pendidik Nusantara 2019, dimana banyak guru dari berbagai daerah datang ke sini. Harapannya dari sini, guru-guru peserta Wardah Inspiring Teacher 2019 bisa mengenalkan media ajar yang dibuatnya dan awal guru-guru memulai karier protean. Pameran digelar di Gedung Serba Guna Sekolah Cikal Cilandak pada tanggal 26-27 Oktober 2019. Berbagai media guru yang dibuat dipamerkan beserta poster proses pembuatan media tersebut. Banyak guru dari berbagai daerah berdatangan untuk mencoba media yang dipamerkan. “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Kampus Guru Cikal percaya kunci pengembangan guru ada 4 yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier. Tidak berhenti saat guru mendapat piala, namun mengajak guru untuk mengembangkan kariernya sebagai guru.

Pelatihan Pemetaan Potensi Karir ABK Pasca Pendidikan Menengah

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada hari Kamis sampai Sabtu, 3 – 5 Oktober 2019 yang bertempat di LPP Garden Hotel, Yogyakarta. Peserta yang ikut  sejumlah 26 orang ,19 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Sebagai gambaran, bimbingan karir untuk anak berkebutuhan khusus adalah hal penting yang prosesnya tidak terjadi begitu saja. Berbagai persiapan untuk membimbing anak berkebutuhan khusus adalah proses yang cukup panjang yang harus dilalui oleh seorang guru untuk membuat analisa, profil dan Program Pembelajaran Individu. Pelatihan Pemetaan Potensi Karier Murid ABK ini merupakan sebuah pelatihan tatap muka yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal dan Nusantarun dengan tujuan memberikan pembekalan guru-guru di Jawa Tengah untuk bisa memetakan potensi ABK dan membuat Program Pembelajaran Individu. Pelatihan dibuka dengan pemaparan mengenai Kampus Guru Cikal (KGC), Komunitas Guru Belajar (KGB), dan profil tim KGC yang akan mendampingi peserta selama pelatihan. Aktivitas selanjutnya adalah para  peserta diminta  untuk berkenalan melalui kegiatan “Sepatu Bicara”. Peserta diminta untuk melepas sepatu sisi kiri dan meletakkannya di tengah. Setelah itu, kembali ke tempat duduknya masing-masing. Setelah duduk, peserta diminta mengambil sepatu secara acak yang bukan sepatunya sendiri. Setelah itu, mereka diminta untuk mencari pasangan sepatunya. Ketika menemukan jodoh pasangan sepatunya, peserta diminta untuk saling bercerita. Pada pelatihan sebelumnya, peserta belajar mengenai asesmen, wawancara, observasi, serta minat berdasarkan teori Holland. Beberapa peserta juga mengemukakan perasaan dan pengalamannya dalam melakukan asesmen dan membuat laporan profiling, seperti kesulitan menyesuaikan kosakata saat wawancara dengan anak tunagrahita. Setelah review, pelatih memaparkan mengenai alur pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan apa yang sudah mereka ketahui (S) dan apa yang ingin mereka ketahui (I) mengenai bimbingan karir ABK pada kertas post-it. Peserta lalu diminta untuk mengisi kolom S, I dan P. Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Peserta telah paham mengenai tujuan dan metode-metode asesmen (seperti observasi, wawancara, dan tes). Pada saat aktivitas refleksi profiling pelatih membuka dengan membagi kelompok menjadi berpasangan dengan kegiatan mencari jodoh melalui potongan kertas dalam kalimat. Masing-masing anggota kelompok berdiskusi mengenai keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam membuat profiling asesmen yang mereka jalani sebelum pelatihan ini. Kemudian peserta diminta untuk menempelkan profiling asesmennya di meja, dan melakukan gallery walk, yaitu membaca profiling assessment yang lain, dan memberikan umpan balik dengan menuliskan post it dan menempelkan di kertas profiling assessment temannya. Kemudian setelah semua peserta menerima umpan balik dari peserta lainnya, peserta kembali kepada pasangannya dan bersama merumuskan kunci keberhasilan dan tantangan dalam membuat profiling assessment. Lalu dalam kelompok besar, pelatih membuat daftar dari hasil diskusi dalam tabel tampak seperti dan tidak seperti. Kemudian masing-masing peserta membuat catatan untuk revisi profil assessment yang sudah dibuat oleh masing-masing. Kegiatan ini berhasil membuat para peserta untuk berpikir kembali mengenai apa saja yang harus dilakukan dan penting dilakukan untuk membuat profiling assessment. Kegiatan selanjutnya adalah  Analisa Hasil Profiling  dengan mengajak para peserta bermain peran dengan menjadi detektif.  Peserta diminta untuk menyimak baik-baik  kasus, alat bukti dan dugaan yang dilakukan. Selanjutnya peserta diminta untuk menjelaskan motifnya dan siapa pelakunya.  Melalui kegiatan bermain peran ini para  peserta terlihat sangat antusias pada saat kegiatan menonton video. Beberapa peserta bisa memberikan jawaban pertanyaan dari video yang telah ditonton seperti apa saja hal yang diamati oleh sang detektif, menjelaskan kesimpulan yang diambil oleh sang detektif, bagaimana cara detektif bisa membuat kesimpulan dan apa yang bisa dipelajari dari cara detektif mengambil kesimpulan tersebut. Di hari  kedua Jumat, 4 Oktober 2019 para peserta belajar tentang Program Pembelajaran Individu (PPI): Konsep, Tujuan, Cara Kerja. Sesi dimulai dengan diskusi bersama peserta mengenai analisa profil yang sudah mereka buat sudah dapat langsung dibuat menjadi PPI. Sebagian peserta menjawab belum cukup, harus dibicarakan lagi dengan orang tua. Lalu dilanjutkan dengan apa yang mereka ketahui tentang PPI. Setelah itu pelatih memaparkan tujuan, konsep, dan prinsip PPI. Setelah itu, sesi pun diakhiri dengan contoh lembar PPI beserta penjelasan mengenai isinya. Beberapa peserta sudah familiar dengan istilah konferensi. Beberapa peserta juga memiliki pengalaman melakukan konferensi kelas dengan orang tua. Saat menuliskan apa yang ada di pikiran mereka mengenai PPI, sebagian besar sudah memiliki pandangan yang sesuai dan sama mengenai PPI. Peserta mengetahui bahwa PPI bersifat individu sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, berisikan identitas, target/rencana perilaku yang ingin dicapai, waktu pelaksanaan, kemampuan anak saat ini, materi yang diberikan, strategi pengajaran, serta evaluasi yang dilakukan. Mereka juga sudah tahu kalau PPI merupakan program yang disusun berdasarkan informasi dari berbagai pihak yang terlibat dengan anak.  Pada saat materi tentang keterampilan komunikasi dengan murid dan orangtua ABK  dimulai dengan diskusi apa saja yang peserta ketahui tentang keterampilan komunikasi, terutama dengan ABK dan orang tua ABK. Kegiatan berikutnya adalah berbagi pengalaman melihatkan orangtua murid ABK dalam merencanakan karirnya. Dilanjutkan dengan diskusi tantangan terbesar dalam berkomunikasi dengan orang tua dan murid saat merencanakan karirnya diteruskan  dengan paparan tentang konferensi 2 dan 3 arah. Pada saat masuk materi PPI, peserta diberikan  penjelasan tentang elemen dalam PPI seperti deskripsi kemampuan siswa saat ini yang bisa diperoleh dari lembar konferensi, menentukan tujuan umum yang akan dicapai dan harus  relevan, fungsional dan rasional. Pelatih menjelaskan setelah menuliskan tujuan umum peserta bisa membuat tujuan pembelajaran khusus dan deskripsi tentang pembelajaran yang menunjang tujuan pembelajaran. Dengan ini program pembelajaran individual setidaknya bisa diukur tingkat keberhasilannya.  Penentuan waktu pelaksanaan program dan berakhirnya kapan  juga perlu dituliskan di awal dikarenakan akan menentukan kapan akan dilakukan evaluasi program.  Selanjutnya para peserta diminta untuk membuat PPI dari studi kasus Wira dan setelah itu mereka mempresentasikannya kedepan. Kegiatan selanjutnya adalah membuat lembar konferensi 3 arah dari profiling murid masing-masing dan berlanjut membuat program pembelajaran individual  dari lembar konferensi 3 arah yang telah mereka buat. Pada hari ketiga peserta  belajar tentang Program Bimbingan Karir dengan tujuan   Menggali pemahaman peserta  tentang apa itu bimbingan karir bagi abk.   Pada  materi Perencanaan Bimbingan Karir dan Menyusun Rancangan Bimbingan Karir. Sesi awal,  peserta diminta diskusi mengenai perbedaan pendidikan vokasional dan pendidikan akademik, beserta karakteristik anak yang direkomendasikan pada masing-masing pendidikan tersebut. Setelah itu pelatih memaparkan mengenai hal penting dalam menyusun rancangan bimbingan karir, … Read more

Persiapkan Karier Murid Disabilitas di Masa Depan lewat Pelatihan Pemetaan Potensi ABK Yogyakarta

Hermawan, Penyandang Disabilitas Grahita asal Solo Jawa Tengah, pasca lulus SMALB 2 tahun lalu merasa bingung dengan arah karir nya. Pasca lulus ia masih datang ke Sekolah untuk sekedar main. Sudah tidak tercatat sebagai murid di sekolah, aktifitas Hermawan hanya duduk-duduk di halaman sekolah. Hingga tiba waktu pulang, Hermawan akan ikut pulang bersama  murid lain. Cerita tersebut tidak hanya dialami oleh Hermawan, tetapi juga dialami sebagian besar murid disabilitas di Indonesia. Pasca lulus di jenjang Sekolah Menengah Atas, sebagian besar anak dan orangtua bingung apa yang harus dilakukan, mau diarahkan kemana karier si anak kedepan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kampus Guru Cikal  bekerja sama dengan Nusantarun menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas. Acara yang berlangsung di LPP Hotel tersebut diikuti oleh 40 peserta yang berlatar belakang guru SMALB, Guru BK SMA inklusi dan Guru BK Sekolah reguler. Pelatihan ini adalah rangkaian Acara Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas Jateng & DIY. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (27-29  Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengetahui arah karier ABK. Sehingga kedepan guru mampu memetakan potensi peserta didik dan membantu peserta didik penyandang disabilitas untuk menentukan arah kariernya. Ada 4 pelatih yang memberikan materi pada pelatihan ini, Dina Febrina Ekasari, Yulita Patricia Semet dan Amalia Jiandra dan Budi Setiawan. Acara pelatihan ini diawali dengan sesi Pesta Permen. Sesi ini bertujuan sebagai sesi perkenalan antar peserta. Setelah sesi perkenalan,  Pelatih Budi Setiawan mengawali sesi pelatihan dengan memberikan gambaran dan alur secara keseluruhan tentang Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas serta menjelaskan tentang Kampus Guru Cikal. Pelatih Budi menjelaskan, Program ini merupakan program yang sumber dananya berasal dari masyarakat yang digalang oleh pelari Nusantarun. Sumber dana ini digunakan untuk pengembangan murid penyandang disabilitas Jateng & DIY. Sesi selanjutnya diisi materi orientasi pelatihan oleh Pelatih Dina Febriana. Selanjutnya, peserta diminta untuk mengisi kolom S, I dan P.  Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Pada Sesi Keberagaman Karakteristik ABK, Pelatihan diawali dengan menebak profesi orang dengan kebutuhan khusus dari fotonya (tuna daksa, tuna rungu) lalu berdiskusi dengan tantangan yang dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Materi Keragaman karakteristik disampaikan melalui pemainan kartu. Peserta nampak antusias dengan permainan kartu yang diberikan oleh pelatih. Sesi selanjutnya adalah sesi Miskonsepsi Pendidikan Inklusi. Dalam Sesi ini, pelatih Dina mengorek tajam mengenai salah kaprah pendidikan inklusi yang selama ini menjadi opini masyarakat. Hari ketiga, peserta materi diberi materi tentang Prinsip, Tujuan dan Asas asesmen. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah diharapkan guru dapat memetakan potensi murid disabilitas. Materi ini dilanjutkan dengan materi Ragam Asesmen yang disampaikan oleh Pelatih Dina. Melalui pasangan janji yang di jam tertentu, awalnya peserta diminta untuk berdiskusi menggunakan kegiatan think-pair-share tentang asesmen sumatif dan formatif. Beberapa peserta diminta untuk berbagi pendapat hasil diskusinya. Lalu peserta diberikan penjelasan tentang asesmen untuk, terhadap dan sebagai proses belajar. Dari penjelasan tersebut, peserta lalu diajak melakukan kegiatan simulasi tentang 3 kegiatan yang berbeda. Untuk kegiatan ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah simulasi, peserta diminta untuk menentukan jenis asesmen mana yang dapat dilakukan dari masing-masing kegiatan, sesuai dengan karakteristik asesmen yang telah dijabarkan Sesi selanjutnya adalah praktik pembuatan asesmen. Pembuatan Asesmen ini bertujuan agar peserta dapat memetakan potensi peserta didiknya. Nantinya, hasil asesmen ini akan dijadikan acuan untuk membantu peserta didik menentukan arah kariernya. Pelatihan ini disambut baik oleh peserta. “Alhamdulillah…terima untuk pelatihan yang asyik dari tim Kampus Guru Cikal. Materi yang menarik jadi semakin menyenangkan dibungkus dengan games yang seru. InsyaAllah sangat bermanfaat bagi saya.” Ujar Amelia, peserta pelatihan yang berasal dari SLBN Pembina Yogyakarta. Sejalan dengan pendapat Amelia, Fatrik Marandau, guru SMA Tumbuh mengatakan “Terimakasih kampus Guru Cikal sudah memperlengkapi kami dengan pemahaman yang semakin lengkap dan keterampilan yang baru, untuk kami dapat semakin efektif mendampingi anak-anak. Sukses untuk Bapak Ibu semua. Sukses juga untuk Kampus Guru Cikal. Mari terus tebarkan kebaikan kepada anak-anak kita! Terimakasih”

Memetakan Potensi ABK dengan Asesmen

Apa jadinya seorang ahli bedah yang dikenal hebat, terlempar ke masa di mana alat-alat bedah tidak ada. Apakah ia masih bisa melakukan praktik membedahnya?  Namanya Jyin Hyuk, seorang dokter bedah yang hidup dan tinggal di masa modern yang mengalami kejadian aneh, yang membuatnya harus terlempar jauh ke masa Dinasti Joseon. Dalam masa itu, teknologi medis masih dalam tahap awal. Banyak kasus yang dialami Jyin Hyuk ketika ia terlempar ke waktu yang berbeda. Salah satunya adalah ketika ia menemui seorang anak yang sakit perut, mual, mata tampak cekung, dan juga kulit kering.  Dari sekilas melihat kondisi anak tersebut, Jyin Hyuk meminta warga untuk menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tindakan. Namun tak disangka, wabah melebar, ada beberapa warga yang meninggal karena penyakit tersebut. Di masa belum ada peralatan medis tersebut, Jyin Hyuk membuat alat alternatif, obat alternatif dan melakukan beberapa keputusan agar virus tersebut tidak tersebar. Asesmen, saya melihat apa yang Jyin Hyuk sebagai seorang dokter melakukan asesmen, dia memperkirakan apa yang sedang dialami si anak dari mengobservasinya, seringnya mual, sakit perut hingga kulit kering membuatnya mendiagnosis bahwa si anak terkena kolera. Ia pun tahu kalau virus itu akan cepat menyebar dan mengambil beberapa keputusan sampai membuat beberapa obat dan alat untuk mengobati yang sudah terkena dampak. Sebagai seorang guru, salah satu yang perlu dimiliki adalah kemampuan seperti dokter Jyin Hyuk, yaitu melakukan asesmen. Oleh karena itulah dalam program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas pelatihan pertama difokuskan mengajak guru peserta program untuk bisa melakukan asesmen. Pelatihan bertema  “Pemetaan Potensi ABK Pasca Pendidikan Menengah” ini diikuti sekitar 40 guru pembimbing khusus dari SMALB, dan guru BK dari  SMA/SMK/Madrasah Inklusi di Jawa Tengah. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (5-7 Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi ABK. “Sering banget terjadi miskonsepsi diantara guru mengenai pendidikan inklusi”, ujar Vitriani Sumarlis salah satu pelatih dari Kampus Guru Cikal. Oleh karena itulah di bagian awal pelatihan, peserta diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai miskonsepsi pendidikan inklusi, seperti : Murid dengan disabilitas/ berkebutuhan khusus tidak akan mampu mengikuti kurikulum yang sama seperti anak-anak pada umumnya  Kurikulum khusus perlu dirancang untuk anak-anak dengan disabilitas/ kebutuhan khusus Menerima murid disabilitas/berkebutuhan khusus dalam kelas reguler hanya akan menghambat pencapaian murid-murid yang lain di kelas tersebut  Pernyataan-pernyataan tersebut membawa peserta berbeda pendapat, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Dari proses inilah, kami melihat beberapa guru memang masih kebingungan mengenai tujuan pendidikan inklusi. Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan inklusi, pelatih memutarkan sebuah video tentang praktik pendidikan inklusi di negara-negara eropa. Peserta kemudian diajak berdiskusi antarkelompok. “Saya jadi mulai memiliki gambaran sebagai guru BK menerapkan pendidikan inklusi di sekolah saya. Kalau memang pendidikan untuk semua, mengapa perlu kurikulum khusus. Saya mulai memahami bahwa untuk mencapai itu, salah satu yang perlu dilakukan adalah kolaborasi..” ujar salah satu peserta guru BK. Setelah itu pelatihan yang berlangsung di Gedung BP-Diksus, Semarang ini mengajak peserta untuk mengenali keragaman ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Karena jika guru mengetahui tentang keragaman ABK, guru bisa lebih mudah memberikan tindakan yang tepat sesuai ragam ABK-nya. Dalam sesi ini, peserta diajak bermain kartu Murid Istimewaku, kartu permainan yang bertujuan mengajak peserta tahu dan mengerti ragam ABK. Melalui permainan, ragam ABK yang berjumlah banyak memudahkan untuk dimengerti oleh peserta dan kemudian mengelompokkannya ke dalam area-area disabilitas, mana ragam disabilitas yang masuk area disabilitas fisik, mana yang masuk disabilitas sensori, mental, dan intelektual. “Permainannya seru, mengasah peserta untuk bisa merancang strategi agar mendapat skor banyak. Selain itu, penggunaan perbedaan warna memudahkan kami memetakan area disabilitas murid..” ujar salah satu peserta program. Harapannya setelah mengetahui tujuan pendidikan inklusi dan ragam ABK, guru bisa melakukan asesmen yang tepat untuk murid. Oleh karena itulah sesi selanjutnya yang berlangsung di hari kedua membahas tentang prinsip, tujuan dan cara asesmen.  Jika diandaikan seorang dokter Jyin Hyuk yang terlempar ke masa belum mengenal peralatan medis, dan menggunakan apa yang ada di lingkungannya untuk membantu mengobati pasien, maka sebenarnya tantangan guru adalah itu. Tidak bergantung asesmen-asesmen dari lembaga lain yang biasanya berharga tinggi melalui serangkaian tes. “Tantangannya adalah mengajak guru menggunakan apa yang ada untuk melakukan asesmen. Dari sesederhana melakukan pengamatan kepada murid, melakukan wawancara. Karena selama ini yang terjadi di kalangan guru adalah cara melakukan asesmen menggunakan alat berupa tes, yang terkadang berbiaya..” ujar Rizqy salah satu pelatih dalam tahap ini. Lewat berbagai simulasi permainan, peserta diajak untuk saling mengamati satu sama lain. Mencatat apa yang dilakukan, bagaimana perilakunya, menanyainya untuk mendapat gambaran orang tersebut.  “Memang tantangannya dalam asesmen, bagaimana melakukan asesmen tidak secara langsung dan murid mengetahui bahwa mereka sedang diamati/diwawancarai.” ujar Vitriani Sumarlis kepada peserta setelah melakukan simulasi observasi dan wawancara. Di hari terakhir, peserta diajak mengenali bakat dan minat murid melalui teori Holland. Di sesi ini peserta antusias sekali mempelajari mengenai Teori Holland, yang membagi minat menjadi 6 yaitu realistik (sang pekerja), investigatif (sang pemikir), artistik (sang kreator), sosial (sang penolong), wirausaha (sang pembujuk), dan konvensional (sang pengatur). Harapannya, para peserta memiliki pengetahuan mengenai minat sehingga bisa menumbuhkan minat-minat yang murid miliki. “Pelatihan yang berbeda dari pelatihan lainnya. Tiap hari hampir 8 jam pelatihan namun tidak terasa.” Ujar Nanik Qomariyah, salah satu peserta 

Membuka Jalur Karier Guru yang Tak Hanya Kepala Sekolah

Bagaimana guru bisa menjadi profesi yang juga tidak hanya mengajar dan belajar, tapi juga bisa sebagai inovator? Apakah bisa? Ternyata dalam pelatihan selama Wardah Inspiring Teacher ini, pertanyaan tersebut bisa terjawab. Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019 ini dimulai dari belajar Proses Berpikir Desain, dimana para guru dalam pelatihan ini ditantang untuk menjadi guru yang berinovasi. Apa yang para guru ini akan inovasi? Yaitu media belajar yang digunakan untuk sehari-hari mengajarkan konsep atau pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajarannya. Pelatihan yang diadakan pada tanggal Sabtu, 14 Juli 2019 di Ruang Ballroom Hotel Crystal Lotus, Yogyakarta ini merupakan tahap lanjutan dari proses Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019. Kira-kira 20 orang peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah Jogjakarta dan sekitarnya dimulai dengan meninjau kembali sampai dimana perjalanan para guru dalam belajar berinovasi. Para peserta diajak melihat kembali tahapan berpikir desain, dan menilai diri sendiri melalui yang disebut Pohon Blob, sampai dimana perjalanan mereka, dan diskusi dengan teman sebelahnya mengapa menurut mereka tahap itulah yang mereka pilih. Salah satu peserta berbagi dengan temannya dengan menganalogikan dirinya dengan gambar orang sedang bergantung kepada dahan pohon, “Karena saya masih coba untuk memanjat pohon seperti saya sedang dalam proses mencapai puncak pembelajaran saya.” Begitu kata salah satu guru menjelaskan tentang proses perjalanannya.  Pelatihan lanjutan kali ini berfokus kepada bagaimana para peserta bisa memperoleh umpan balik untuk media ajar yang dibuatnya. Diskusi mengenai pertanyaan apa saja yang bisa menjadi umpan balik, kemudian para peserta juga belajar untuk memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri, dengan menggunakan perangkat rubrik yang memudahkan pembuat media belajar untuk menilai medianya sendiri.  Bagian paling seru dan dinanti-nantikan dalam pelatihan ini adalah dimana para peserta menguji coba media belajarnya dalam kelompok. Berbagai produk media belajar yang sudah didesain oleh para peserta dipresentasikan, diuji coba, dan diberikan umpan balik oleh peserta lainnya. Hampir semua produk media belajar yang ditampilkan sangat menarik untuk diulas, namun berikut beberapa yang memancing banyak komentar maupun umpan balik: Keran Wudhu dan Urutannya, media untuk belajar urutan berwudhu dalam pelajaran agama, dibuat dengan gambar di atas keran, sehingga siswa tinggal mengikuti urutan wudhu dalam belajar urutan wudhu dengan benar. Video Biografi, video buatan guru yang menginspirasi bagaimana cara membuat Biografi yang menggugah dan menginspirasi orang yang menontonnya. Berbagai modifikasi Board Games dan Flash Card, belajar tentang sains maupun bahasa Inggris. Pelatihan ditutup dengan bintang tamu dua orang guru yang sudah menjadi inspirasi di komunitasnya yaitu Pak Nuno dari Petungkriyono yang menggunakan media belajar Asesmen dengan QR Codenya sempat dimuat surat kabar lokal maupun nasional, beliau memperluas ranah medianya ke Board Games, sehingga mendapatkan proyek permainan yang bertema pelestarian binatang bernilai jutaan dari sebuah badan konservasi. Perjalanan belajar dari Pak Nuno, membuktikan bahwa guru yang berinovasi yang bermulai dari masalah, bisa membawanya menuju karier protean, yaitu jenjang karier yang bisa capai oleh guru, selain menjadi kepala sekolah, wakil kepala sekolah atau pengawas.  Salah satu narasumber lainnya yaitu ibu Pima Aditya dari Sekolah Cikal, beliau adalah koordinator kurikulum SD Cikal Cilandak yang juga mengembangkan karirnya sebagai Teknologi Integrator, walaupun Ibu Pima tidak punya latar belakang IT maupun Komputer Sains. Beliau terpilih menjadi salah satu Apple Distinguished Educator dari Indonesia. Pekerjaan sehari-hari ibu Pima adalah memetakan kurikulum dan proses belajar dengan teknologi. Menurut ibu Pima Pendidikan adalah Teknologi dan Teknologi adalah Pendidikan, tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, para guru harus berani menghadapi perubahan, dan juga membuat perubahan dengan berinovasi melalui media belajar. Acara pelatihan ditutup oleh video yang mengatakan: The Future of Education is You.  Masa depan pendidikan adalah: anda, sang guru.

Foundation Program Batch 41 Jakarta: Ketika Guru Baru Bertemu

Awal dan akhir tahun ajaran merupakan waktu yang paling ditunggu, bukan hanya murid tetapi juga guru. Namun, Sekolah Cikal punya cara asik menggunakan waktu liburan untuk menyiapkan tahun ajaran baru dengan Foundation Program dan juga waktu untuk berkenalan dengan guru baru.

Foundation, kalau mendengar kata tersebut langsung teringat dengan alas bedak atau pondasi rumah, sama-sama memiliki makna yang kuat dan kokoh. Kalau alas bedak yang kuat, make up bisa bertahan lama, kalau pondasi rumah kokoh, akan sanggup menopang bangunan yang berdiri di atasnya. Lah, iya gimana? Lalu hubungannya dengan tulisan ini?

2019_0624_15275800

Hari ini, 24 Juni 2019 Foundation Program Batch 41 Sekolah Cikal dimulai bertempat di GSG Sekolah Cikal Cilandak, terdapat Cikal Team Member dari Sekolah Cikal, Rumah Main Cikal, Kampus Guru Cikal dan Head Office yang mengikuti program ini, beberapa ada yang sudah bergabung dan juga ada yang baru bergabung. Foundation Program dilaksanakan selama 3 bulan dengan metode blended learning, 6 hari ke depan akan bersama-sama menguatkan tujuan kita berada di Cikal. Foundation Program adalah salah satu cara untuk menyiapkan tahun ajaran baru dan ketika guru baru bertemu.

Pak Daus menyapa peserta yang sudah hadir dan Foundation Program resmi dibuka oleh Bu Renny, GM HR Sekolah Cikal dan berlanjut ke sesi materi. Eh, tak kenal maka harus kenalan. Pelatih dari Kampus Guru Cikal, Bukik Setiawan mengajak peserta untuk berdiri berurutan sesuai abjad film yang ditonton, secara berpasangan peserta berkenalan dan juga bercerita tentang film favorit selama 3 menit. Seru? Seru donk, aku sih sempat menyimak ada beberapa peserta yang film favoritnya Avengers dan mengidolakan tokoh Iron Man, yee sama *lah dan mereka bergabung menjadi 6 kelompok, The Power Puff Girl, Guardian of Cikal, Ades, Breakfast Club, Hobi Makan dan Rainbow.

Read more

Guru Berinovasi, Pendidikan Bergerak Pasti

PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan tahap 1 Wardah Inspiring Teacher Yogyakarta pada tanggal 24-25 Maret 2019. Pelatihan ini adalah bagian dari program CSR Wardah. Tujuan dari program ini adalah memberikan apresiasi dan  pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Ada 28 Guru yang mengikuti program ini. Peserta bukan hanya dari Yogyakarta saja, namun juga daerah sekitarnya, bahkan ada yang berasal dari Pekalongan yang jaraknya kurang lebih 200 KM dari Yogyakarta. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, butuh begitu banyak dedikasi dan usaha untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. belum lagi sebagai guru harus mengenal dan memahami murid untuk dapat mengetahui hal-hal apa yang dapat membantu atau menjadi hambatan dalam proses belajar. Guru sebagai inovator adalah jawaban dari berbagai masalah yang dihadapi guru dalam mengajar. Dalam pelatihan ini guru dibagi berdasarkan jenjang kelas yang diajar, hal ini untuk memudahkan guru dalam berdiskusi dan mengembangkan ide inovasinya. Dalam pelatihan ini guru diajak untuk berempati dan memahami anak, karena inovasi yang berhasil dibangun atas dasar empati. Selanjutnya guru diajak untuk memahami tahap perkembangan anak serta menggali lebih dalam permasalahan yang dihadapi oleh murid. Hal ini bertujuan agar guru dapat menganalisa dan memilih permasalahan apa yang ingin diselesaikan. Dari pelatihan ini banyak guru yang merasa tercerahkan. bahwa sebenarnya guru bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, asal guru mau selalu belajar dan terbuka terhadap perubahan. perubahan bukan untuk dihindari, karena perubahan adalah sesuatu yang pasti. jadi tugas utama kita sebagai seorang guru adalah belajar. Belajar memahami murid, belajar melihat tujuan besar, belajar mandiri terhadap cara untuk mencapai tujuan dan belajar untuk konsisten berefleksi.