Kenapa Guru Harus Melek Film?

“Wah parah ini film tidak mendidik!” “Hati-hati ya para guru, film ini tidak cocok ditonton anak-anak” Sering mendengar perkataan ini? Atau bahkan petisi? Sebenarnya yang salah filmnya atau jangan-jangan kita yang belum melek film? Nah lho…. Film selalu menjadi media belajar yang menarik bagi murid, Baik itu dari jenjang kelas paling kecil PAUD sampai tingkat SMA. Saya teringat ketika dulu waktu masih sekolah, ketika SMP saya selalu antusias ketika ada kegiatan menonton film. Sekalipun ada tugas mencatat kosata yang terdapat di dialog semua terasa menyenangkan. Banyak alasan yang membuat film menjadi media belajar yang menarik. Dalam film ada gambar dan suara sehingga cenderung lebih atraktif bahkan terkadang anak-anak bisa hanyut dalam alur ceritanya. Namun yang perlu disadari terkadang guru belum menggunakan film dengan baik dan maksimal. Waktu dulu saya mengajar, terkadang guru-guru membuat kegiatan menonton film yang tidak sesuai dengan anak. Misalnya film yang berbahasa Inggris dengan durasi panjang untuk kelas 1 SD, sedangkan anak-anak belum paham bahasa Inggris sehingga anak-anak sibuk bermain sendiri. Guru juga cenderung kebingungan membuat kegiatan setelah menonton film. Sedikit fenomena yang terjadi, membuat Sinedu bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan Guru Melek Film. Apa itu Guru Melek Film? Guru Melek Film merupakan program pemberdayaan guru untuk menjadi penggerak literasi film di daerahnya. Kegiatan berupa pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi dan pengalaman memanfaatkan film sebagai media belajar yang menarik dan bermanfaat serta mampu menciptakan interaksi dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Tanggal 27 April 2019 lalu, Sinedu dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan Guru Melek Film di Pekalongan. Pernah nggak nonton film yang sebenarnya untuk umur 17+ tapi ada orang tua yang membawa anak di bioskop beberapa menit kemudian orang tua tersebut keluar dari bioskop? Pengalaman tersebut sama persis dengan yang dirasakan salah satu peserta, Pak Ahyat “Dulu saya punya pengalaman nonton sama anak saya. Kapok. Karena nggak sesuai ternyata untuk anak-anak. Sebaiknya memang menonton filmnya terlebih dahulu, sebelum menonton bersama anak-anak”  ujar beliau ketika sesi cerita pengalaman menonton film. Ada tips dari Sinedu “Bagaimana agar sebagai orang dewasa tidak salah pilih film?” Baca dulu sinopsi film Lihat dulu batasan umur filmnya Lalu, Bagaimana penggunaan film untuk pembelajaran? Seperti saat mengajak anak menonton film di bioskop, begitu pula untuk pembelajaran. Guru perlu memilih film yang tepat. Bagaimana caranya?    Memilih Film Yang Tepat Identifikasi kebutuhan pembelajaran, siswa dan guru. Cari referensi film di www.sinedu.id atau website lain. Pilih film sesuai dengan rating usia dan genre yang tepat. Tonton film dan buat catatan hal-hal menarik sepanjang film. Menurut beberapa peserta mengaku bahwa sering kali film yang dipakai tidak ditonton dulu atau terkadang asal pilih karena piihan terbatas.   Karena itu Guru harus Melek Film! Dengan guru yang melek film, guru menjadi pemikir yang kritis. Guru memiliki kemampuan evaluasi dan memahami, Di akhir sesi, peserta diajak menonton film yang ada dalam daftar website Sinedu. Setelah itu, peserta secara berkelompok membuat pembelajaran dengan menjadikan film sebagai media pembelajaran. Salah satu peserta melakukan simulasi pengajaran, setelah menonton film murid-murid diajak untuk melakukan aktivitas yang sama seperti yang ada di film. Menurut salah satu peserta mengaku bahwa sekarang menjadi lebih terbuka tentang pemanfaatan film sebagai media pembelajaran. Tidak hanya menonton lalu tanya jawab seputar film, tetapi bisa dihubungkan dengan pembelajaran lain, Misal olahraga atau bermain drama. Selain itu juga bisa dengan media atraktif seperti bermain dadu. Salah satu peserta dari KGB Pekalongan Pak Wahyu berinisiatif untuk membuat boardgames film. Guru, Belum Melek Film? Yuk ikutan Guru Melek Film yang akan diadakan di kota-kota lain. Tunggu pengumuman di Instagram Kampus Guru Cikal @KampusGuruCikal  

Kobarkan Semangat Merdeka Belajar

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, KGB Semarang mempersembahkan sebuah event berbasis pelatihan bertemakan “Guru Merdeka Belajar”. Pelatihan ini tercipta dari sebuah amanah yang diberikan Kampus Guru Cikal kepada Komunitas Guru Belajar Semarang. bertempat di Qita Yoga Studio Jalan Kyai Saleh 13 Semarang, acara ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Guru Merdeka Belajar, sebuah tagline yang tidak asing kita dengar namun, sudahkah semua guru memaknai arti di dalamnya? Pelatihan Guru Merdeka Belajar bertujuan supaya seorang guru mengalami pengalaman merdeka belajar, memahami hakikat belajar dan memahami miskonsepsi guru belajar. Merdeka belajar adalah sebuah pondasi untuk pengembangan diri seorang guru serta sebagai wadah untuk melakukan praktik pembelajaran yang bermakna untuk murid. Diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, pelatihan berjalan begitu aktif dan kondusif. Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini pertama-tama dipandu oleh Guru Rosa dari KGB Semarang. Tak pernah lupa untuk mencairkan suasana pelatihan GMB ini, maka diawalilah dengan ice breaking dan beberapa games. Memasuki acara selanjutnya, yaitu orientasi yang dibawakan oleh Guru Erna. Orientasi ini meliputi pembahasan kesepakatan kelas, pengisian SIP oleh peserta pelatihan dan memastikan bahwa peserta telah mengisi assessment Pra Pelatihan GMB. Sebuah kata membuka sesi pertama acara inti ini, “Sebenarnya setiap saat seorang guru mempunyai pengalaman yang sangat berharga. namun sayang, tak ada yang mau mendengarkan pengalaman itu, termasuk guru itu sendiri.” Guru Anik sebagai narasumber lantas memaparkan beberapa masalah dan miskonsepsi yang ada di pada dunia pendidikan. Kemudian Guru Anik juga memvisualisasikannya dengan mengajak peserta pelatihan untuk role playing terhadap suatu pembelajaran di kelas menggunakan metode direct instruction dan diferensiasi. Awalnya peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setelah role playing usai, peserta diminta untuk mendiskusikan perbedaan yang ada pada dua metode. Dari hal tersebut, Guru Anik menarik benang merah tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana praktiknya dalam kelas. Para peserta juga melakukan refleksi individu, kemudian refleksi berkelompok terkait jenis pengajaran yang bagaiman yang harus dihentikan, mana yang dilanjutkan dan mana yang diperbaiki. Pada sesi kedua, Guru Anik memutarkan sebuah video pendek dari seorang sosok guru yang menginspirasi bernama Ameliasari dari Salatiga. Peserta dibuat terkagum-kagum akan perubahan dari Guru Amel yang awalnya hanya mementingkan hasil semata menjadi guru yang memperhatikan proses juga menginspirasi. Pelatih juga mengajak peserta untuk memahami pengembangan diri guru, kompetensi yang ada pada guru serta karier guru melalui 4 kunci pengembangan guru. Pelatihan semakin terasa kebermanfaatannya setelah memasuki sesi tanya jawab. Bahkan kisah haru pun tercurahkan dari seorang peserta pelatihan yang menceritakan tantangannya mempraktikkan dan mengajak rekan sesama pendidik mengobarkan semangat merdeka belajar dalam kelas. Tak mudah memang, apalagi sampai dibilang “Anak kemarin sore kok begitu”. Sesi pelatihan ini ditutup dengan refleksi dan pemberian challenge untuk peserta pelatihan. Binar mata seorang guru yang merdeka belajar pun mulai terpancar dari para peserta pelatihan GMB ini. Tetap kobarkan semangat merdeka belajar kepada sesama pendidik dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi para murid. Mengajar dengan sepenuh hati, bukan lagi tergoda oleh sertifikasi maupun nilai-nilai kompetensi. Saya Guru Merdeka Belajar. Semarang, 2 Mei 2019Komunitas Guru Belajar Semarang.

Menjadi Guru yang Berdaya

Menjadi guru adalah pilihan, bukan paksaan. Guru tak terbatas ruang dan waktu sampai kapan pun dan dimana pun guru tetaplah teladan bagi murid-muridnya. Maka menjadi seorang guru didasarkan atas kesadaran. Sadar bahwa dirinya ingin berubah menjadi lebih baik, mau belajar terus-menerus. Sumber belajar bisa dari mana saja, buku, internet, SKGB (Surat Kabar Guru Belajar) dll. Tak jarang guru hanya menyampaikan materi saja, namun melupakan tujuan utama, yaitu mengapa materi itu penting disampaikan. Dalam praktiknya guru menyampaikan materi dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh murid. Di hari berikutnya guru bertanya, siapa yang sudah mengerjakan tugas dan siapa yang tidak mengerjakan tugas. Bagi murid yang tidak mengerjakan akan mendapatkan hukuman tertentu, misalnya berlari di lapangan, berdiri di bawah teriknya matahari, atau membersihkan kamar mandi. Sebelum menghukum murid, guru tak pernah bertanya kenapa murid tak mengerjakan tugas. Selama dua hari berlangsung, 23-24 Desember 2018 sekolah Islam Umar Harun mengadakan Pelatihan Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas untuk para guru. Mereka berasal dari berbagai daerah di antaranya Rembang, Jepara, Pati, dan Tuban. Meskipun di hari liburan, mereka tetap giat mengikuti pelatihan ini. Bahkan hujan deras pun tak memadamkan api semangat mereka. Mereka benar-benar ingin menjadi guru yang siap berubah untuk lebih baik. Selama pelatihan berlangsung, dua narasumber keren, Guru Bukik Setiawan dan Guru Ari Wibowo akan memandu perjalanan selama pelatihan. Ada tujuh topik yang disampaikan oleh narasumber yaitu manajemen kelas, tata ruang kelas, kesepakatan kelas, kebiasaan kelas, strategi pengelompokan, disiplin positif, dan strategi memotivasi. Sebelum pelatihan dimulai guru Ari mengajak para guru untuk es breaking agar suasana lebih cair. Barulah para guru diminta untuk membentuk kelompok kecil yang terdiri dari enam orang. Di antara mereka ada yang menjadi juru catat, juru logistik, juru bicara, dan juru kemudi, yang masing-masing mempunyai peranan penting dalam kelompok. Menurut saya, model pembelajaran dengan pengelompokan seperti ini sangat efektif karena masing-masing anggota memungkinkan untuk menyampaikan pendapat tanpa malu-malu. Pelatihan ini sangat penting untuk menunjang belajar guru. Guru kok masih belajar?. Apa sih yang harus dibenahi?. Sebenarnya ada banyak salah kaprah yang sering dilakukan oleh para guru saat mengajar murid-muridnya, bahkan salah kaprah tersebut dilestarikan oleh generasi selanjutnya. Hampir saja para guru tak percaya adanya salah kaprah dalam belajar mengajar. Guru Bukik menjelaskan bahwa salah kaprah itu banyak contohnya. Misalnya, tujuan utama belajar adalah agar nilai ujian nasional memuaskan. Lantas bagaimana dengan mereka yang nilai ujiannya tak memuaskan, apakah dicap sebagai manusia yang gagal dalam hidup?. Saat mendengarkan penjelasan dari guru Bukik para guru tersadar betapa pentingnya menjelaskan tujuan belajar kepada murid, jangan sampai tujuan belajar diartikan sempit. Kemudian para guru diajak untuk merefleksikan cara mengajar mereka. Sungguh terasa aneh dan lucu, ternyata mereka mengakui terbiasa melakukan salah kaprah, misalnya yang sering terjadi murid yang tak mengerjakan tugas dihukum berdiri di depan kelas tanpa memberi kesempatan untuk berpendapat dan membenahi kesalahannya. Bukannya mereka sadar yang terjadi adalah tingkah laku mereka semakin menjadi-jadi. Dengan demikian, sudah seharusnya model semacam itu diubah. Praktiknya, murid tersebut diajak berpendapat mengapa tak mengerjakan tugas, apakah ada kesulitan, atau memang murid tersebut belum paham cara mengerjakannya. Menurut saya pelatihan GMB ini sangat asyik. Saya baru pertama kali mengikuti pelatihan yang modelnya seperti ini. Semua peserta membentuk kelompok kecil yang terdiri dari enam atau tujuh orang kemudian setiap peserta diajak terlibat dalam diskusi, ada yang bagian logistik, ada yang bagian pengemudi agar diskusi mengarah pada tujuan, dan ada juga yang bagian pembicara atau mempresentasikan hasil diskusi. Sedangkan kelompok yang lain ikut andil dalam memberikan feedback. Ini benar-benar pelatihan yang memberdayakan semua peserta. “Guru merdeka itu guru yang selalu merefleksikan strategi mengajarnya.” Guru Bukik.

Merayakan Kebaikan

“Menyenangkan hatiMenempati lazuardi, melintasiAnganku cemerlangBerhiasakan warna-warna..” Lirik lagu berjudul Warna-Warna yang dinyanyikan Andien menjadi pamungkas yang tepat untuk acara Rayakan Kebaikan. Dengan berbagai warna-warna kostum bertema pantai, para pelari, media, pihak yang terlibat dalam penggalangan dan penyaluran dana berkumpul di ONBC NISP Tower, Kuningan Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Februari 2019 untuk merayakan kebaikkan. Acara ini diadakan dalam rangka penyerahan donasi kepada Kampus Guru Cikal yang dipercaya untuk merancang dan melaksanakan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Seperti nama acaranya Rayakan Kebaikkan, runtutan acara pun memperlihatkan kebaikan-kebaikkan yang ada dalam proses penggalangan dana oleh para pelari. Cerita pak Rahmat salah satu pelari tertua yang berhasil menyelesaikan 169 Km, cerita para relawan yang dengan sigap membantu para pelari, cerita media tentang event ini, cerita Jurian Andika dan Cristopher Tobing sebagai founder NusantaRun tentang awal mula mereka melakukan ini, cerita Syn film mengapa mereka mau berkontribusi dalam event ini, cerita yayasan IOA tentang apa yang mereka lakukan dalam program sebelumnya, cerita Kampus Guru Cikal tentang program yang akan dilakukan dan cerita Andien melalui lagu Warna-Warna yang menyiratkan bahwa kontribusi dari berbagai warna akan disalurkan kepada murid-murid disabilitas dengan berbagai warna. Dana yang terkumpul dari penggalangan dana pelari sebesar Rp 2.650.073.357. Dana tersebut akan digunakan oleh Kampus Guru Cikal untuk program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Program ini dilakukan karena hanya 54,26% penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.  Selain itu penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2 %, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai 70,40%. Beberapa penyebab mengapa ada angka-angka tersebut salah satunya karena faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Oleh karena itu dalam program ini, Kampus Guru Cikal tidak sekadar fokus kepada murid penyandang disabilitasnya, namun sistem pendukungnya juga akan menjadi fokus program ini. Guru, orangtua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi akan menjadi fokus program Pengembangan Murid Disabilitas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan dari program ini antara lain : Adanya kesadaran sekolah, guru dan orangtua untuk memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas Pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi yang bersedia menerima dan mendukung murid penyandang disabilitas Tongkat estafet yang diberikan oleh para pelari ini masih panjang perjalanannya, ada banyak tantangan di depan dalam menjalankan program ini. Namun kebaikan teman-teman akan menjadi semangat bagi Kampus Guru Cikal.

Guru dan Realita Abad 21

“Koq anak zaman now itu sukanya komplen ama gurunya?, koq bisa sih mereka itu berkomunikasi tanpa rasa canggung atau takut ama gurunya?” “Anak zaman now itu aneh, cita-citanya seperti youtuber, blogger, selebgram, manajer medsos, ah.. semua itu pekerjaan aneh.” Yup, inilah realita di abad 21. Realita tersebut menunjukkan anak zaman now yang ingin lebih didengar dan dilibatkan, yang menuntut kreativitas,  kritis, dan kerjasama, serta yang menghadapi perkembangan teknologi. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai gurunya yang merupakan produk masa lampau, berada di zaman now, mendidik siswa untuk hidup di zaman now dan di masa mendatang? Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswanya? Bagaimana praktik mendengar yang kreatif? Bagaimana menggunakan media teknologi dengan lebih interaktif? Bagaimana menggunakan teknologi untuk membalik situasi : belajar di sekolah menjadi belajar di rumah, agar siswa lebih kritis? Bagaimana menggunakan teknologi dalam membagi kelompok yang lebih interaktif? Ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu? Yuk gabung di Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar Bandung dengan tema “GURU ABAD 21,” bersama Bu Djuangsih Dewi dan Bu Amalia Fitri, hari sabtu pukul 15.30 di SD Mutiara Bunda. Tahun baru, Semangat baru, Ilmu baru ☺ Caption itulah yang membuat guru-guru merasa tertarik dan bergerak untuk menemui kedua narasumber sore itu. Narasumber pertama adalah Bu Dewi. Diawal Ia menerapkan role play dengan mengajak peserta untuk berbaris di luar area kegiatan, seperti siswa-siswa berbaris di luar ruangan. Peserta pun berbaris dengan rapi memasuki area kegiatan. Tak disangka, kemudian Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, namun kali ini peserta masuk dengan diiringi musik yang membuat peserta ingin bergerak dan menari-nari dengan bahagia. Tak sampai disitu, Ia mengajak peserta keluar area kegiatan lagi, dan kali ini peserta diajak memasuki area dengan diiringi musik sambil bergaya bebas. Ada yang bergaya hip hop, menari jaipong, dsb. Lalu disambut oleh Bu Dewi sambil high five (baca : tos). Tawa pun memenuhi seisi ruangan. Kemudian Ia menstimulasi dengan pertanyaan, sehingga peserta membandingkan dan dapat menyimpulkan pada sesi memasuki ruangan yang ke berapakah, yang dapat membuat suasana menjadi sangat bahagia. View this post on Instagram A post shared by Umi Kalsum (@ka_umi) on Jan 9, 2019 at 8:26pm PST Mindfullness dan Memahami Anak Setelah pembukaan tersebut, Bu Dewi pun mulai berusaha menjawab pertanyaan pertama : Bagaimana guru dapat lebih mendengar siswa? Bu Dewi berkata, “Belakangan istilah mindfullness mulai populer. Konon, praktik mindfullness adalah salah satu kunci menghindari dan mengatasi rasa cemas, pun stres. Apa itu mindfullness? Menurut Marsha Lucas, mindfullness adalah memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang Anda lakukan, tanpa melakukan penilaian.”  Namun, perhatian yang kita berikan perlu dilakukan dengan cara tertentu yaitu : on purpose (secara sengaja, diniatkan), in the present moment (pada saat ini), dan non-judgmentally (tanpa menghakimi). Manfaat dari mempraktikan hal ini yaitu : mengurangi kadar stres, meningkatkan kemampuan regulasi dan kendali diri, menurunkan kecemasan dan depresi, meningkatkan kinerja, dan meningkatkan kemampuan membangun relasi. Hal ini dapat dilakukan dengan : menyayangi siswa kita seperti anak sendiri, tidak menghakimi, lebih berfokus pada sisi positif siswa, menyelesaikan masalah tidak dengan kemarahan agar siswa tidak merasa takut, mengangkat dan menurunkan jari sambil menarik napas, mendengarkan dengan fokus musik instrumen, menuliskan perasaan untuk mengurangi konflik dan agar dapat mengelola emosi. Secara kongkrit, Ia pun menunjukkan beberapa praktik-praktik yang kreatif seperti buku emosi, sebagai media bagi siswa dalam mengungkapkan perasaannya, dan sebagai media bagi guru dalam memperhatikan dan memahami siswa. Selain itu, ada juga media yang dapat digunakan agar guru dapat memperoleh perhatian siswa, yaitu berupa media seperti lampu lalu lintas berwarna merah, kuning, dan hijau, dimana “saat guru mengangkat warna merah, perhatian anak-anak harus fokus pada saya, kuning peringatan karena mungkin ada yang melanggar komitmen kelas, hijau tiba waktunya anak-anak mengemukakan pendapat atau sebagai pengganti mengangkat jari saat ada pertanyaan,” kata Bu Dewi. Sesi pertama pun berakhir dengan memberikan kesadaran pada peserta. Bu Nur yang merupakan peserta kegiatan berkata, “TPD hari ini mengenai GURU ABAD 21 sangat membuka mata saya bahwa untuk menjadi seorang guru itu butuh tenaga (effort) yang sangat besar, … harus lebih peduli terhadap murid … karena anak-anak zaman sekarang atau murid kita itu bukan kita di zaman dulu, jadi tidak bisa disamakan, oleh karenanya harus lebih peka terhadap perasaan murid, harus lebih mau mendengarkan murid, … tidak boleh semaunya sendiri”. Tools Kekinian untuk Pembelajaran Sesi kedua pun dimulai oleh Bu Fitri. Ia memulai dengan melibatkan peserta untuk belajar sambil bermain dengan mengakses website kahoot.it. Website merupakan website yang berisi kuis yang telah dibuat oleh guru, agar siswa dapat menjawabnya. Peserta acara TPD pun diposisikan sebagai siswa dan narasumber memposisikan sebagai guru. Langkah-langkah bermainnya adalah Akses website kahoot.it. Masukkan pin yang telah diberikan guru Pilih bermain secara individuatau bermain secara berkelompok. Masukkan nama panggilan. Tunggu hingga soal ditampilkan. Mulailah mengerjakan kuis. Keseruan terasa dari ekspresi peserta yang berbeda-beda dan berubah-ubah, ada yang bingung ketika merasa kesulitan mengakses soal, ada yang cemberut karena koneksi internetnya lambat, ada yang senyum-senyum ketika mengetahui jawabannya benar, dan bahkan ada yang ketawa-ketawa karena melihat jawabannya yang keliru. Setelahnya pun nampak keterlibatan peserta TPD menjadi semakin meningkat. Bu Fitri pun melanjutkan dengan pendasaran penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta contoh-contohnya. Pendasaran-pendasarannya karena Kegiatan pembelajaran yang padat Kegiatan/acara disekolah Kalender akademis yang dirasa tidak cukup Karakteristik siswa yang sudah memasuki era digital : Bebas, tidak mau terkekang Selalu update Bermain, bukan hanya bekerja Ekspresif Cepat, enggan menunggu Unggah, bukan hanya unduh Interaktif Berkolaborasi Beberapa situs maupun aplikasi dikenalkan, yakni seesaw, padlet, edmodo, quizizz, phet, google classroom, dan flipgrid. Dan aplikasi yang akan dipelajari hari ini adalah google classroom dan flipgrid. Google classroom adalah aplikasi atau fitur yang dapat membantu dalam pembuatan, pembagian, dan penggolongan setiap penugasan tanpa kertas. Sebagai siswa, langkah-langkah menggunakan google classroom adalah Klik simbol (+). Masukkan kode kelas yang diberikan guru. Pada laman stream, nampak tampilan seperti wall di facebook. Pada laman ini, guru dan siswa dapat berinteraksi seperti menyapa, memberi tugas, mengakses soal, dsb. Pada laman classroom, siswa dapat mengakses soal dengan klik dua kali pada soal yang hendak diselesaikan. Ia menyampaikan bahwa kelebihan dari google classroom adalah akun google sudah umum dimiliki banyak orang, google memiliki tampilan yang … Read more

Pelatihan Manajemen Kelas Merdeka Belajar di Rembang

Kelas semacam apa yang memfasilitasi guru dan murid menjadi merdeka belajar? Apa saja aspek yang perlu dikelola? Bagaimana strategi mengelolanya?  Berawal dari rencana mudik akhir tahun melalui jalur darat yang kebetulan sesuai dengan permintaan dari Komunitas Guru Belajar Rembang untuk mampir dan mengadakan TPD lagi, sebagaimana dulu ketika mudik lebaran. Saya menyanggupi dengan pertimbangan toh apa susahnya mampir beberapa jam di Rembang, titik tengah perjalanan, sambil istirahat. Capek kan ya mengendarai mobil dari Jakarta ke Surabaya.  Ide awal tersebut berkembang. Penggerak Komunitas Guru Belajar Rembang mengkomunikasikan ide awal tersebut. Lalu dari pihak Sekolah Islam Umar Harus melemparkan usulan untuk sekalian mengadakan pelatihan Guru Merdeka Belajar. Jreng! Saya minta Tim Manajemen Belajar Kampus Guru Cikal melakukan Analisis Kebutuhan Belajar. Berdasarkan hasil analisis, kami pun menyanggupi permintaan tersebut dengan menawarkan modul Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas.  Persiapan pun dilakukan. Urusan kontrak da administrasi, ketersediaan pelatih, peralatan, serta perencanaan kegiatan dan perjalannya. Saya berangkat ditemani Ari Wibowo, Guru Sekolah Cikal Cilandak menempuh perjalanan darat (Follow IG-nya di @ShinodaAri). Berangkat Sabtu pagi yang direncanakan sampai sabtu petang karena pelatihan akan diadakan dua hari, minggu dan senin. Rencana berjalan tidak mulus. Macet menghadang, kami baru bisa melewati Cikampek sore jam 16 WIB dan tiba di Rembang lewat jam 1 dini hari.  Saya dan Ari membuka pelatihan dengan aktivitas perkenalan yang dikemas menjadi permainan. Setelah suasana cair, peserta pelatihan dibagi menjadi beberapa kelompok agar terbentuk kelompok yang beragam baik dari asal sekolah, pengalaman dan jenis kelamin. Setelah itu pembagian peran dalam kelompok untuk memastikan setiap peserta terlibat aktif. Setiap peserta diminta menyebutkan benda kesayangan dan mengkaitkannya dengan harapan mereka terhadap pelatihan. Harapan pelatih ditulis di kertas dan ditempelkan di dinding kelas sebagai masukan bagi pelatih dalam membawakan modul pelatihan.  Pelatih lalu memandu pelatihan dengan struktur belajar yang serupa: agenda belajar, pemicu belajar, membongkar miskonsepsi, dan diakhiri dengan pemahaman esensial beserta praktiknya di ruang kelas. Sesi pertama membicarakan tentang tujuan pendidikan sebagai acuan dalam melakukan pengajaran maupun dalam menjalankan profesi sebagai guru.  Sesi berikutnya adalah sesi guru merdeka belajar. Apa pentingnya guru merdeka belajar? Peserta diajak untuk menganalisis sistem kebut semalam sebagai fenomena dari orientasi belajar demi ujian semata. Analisis tersebut membawa peserta pada miskonsepsi belajar yang menjauhkan belajar dari tujuan pendidikan senyatanya. Miskonsepsi tersebut yang ingin dibongkar melalui guru merdeka belajar.  Guru merdeka belajar adalah guru yang senantiasa merefleksikan dan menyesuaikan pemikiran dan perbuatan terhadap perubahan sekitar dalam upaya mencapai tujuan. Guru yang belajar untuk mencapai tujuan dari dalam diri, bukan karena faktor eksternal. Guru merdeka belajar yang mampu menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan profesi sebagai guru sekaligus mengajarkan merdeka belajar pada murid. Pengajaran merdeka belajar yang memandu murid untuk menjadi pelajar sepanjang hayat. Merdeka belajar terdiri dari 3 elemen yang membentu suatu siklus yaitu komitmen terhadap tujuan belajar, mandiri menentukan cara belajar dan melakukan refleksi belajar.  Setelah mendapatkan pemahaman mengenai merdeka belajar, peserta diajak melakukan permainan produksi pesawat agar mendapatkan pengalaman terkait siklus merdeka belajar. Dari permainan tersebut, peserta diajak memikirkan  penerapannya dalam pengajaran di kelas.  Makan siang selesai, pelatihan masuk pada modul manajemen kelas. Peserta diajak melakukan refleksi melalui metafor kelas untuk menemukan miskonsepsi manajemen kelas. Dari miskonsepsi, peserta diajak memahami konsep kelas sebagai sistem fisik, sistem psikologi dan sistem sosial. Kelas bukan sebentuk ruang dan perlengkapan tapi juga sistem psikologi yang melibatkan emosi dan kebutuhan manusiawi dan sistem sosial dengan dinamika kelompok dan sosialnya. Setelah itu dijabarkan elemen kelas yang perlu dikelola yaitu tata ruang, kesepakaran kelas, kebiasaan kelas, strategi pengelompokkan, strategi menumbuhkan kedisiplinan dan strategi pengajaran. Pada pelatihan ini akan dibahas semua elemen kecuali strategi pengajaran yang diajarkan pada pelatihan berbeda.  Sesi tata ruang kelas dipandu Ari Wibowo yang mengajar peserta merefleksikan tata ruang pada zaman dulu kala. Setelah itu peserta diajak memahami konsep tata ruang kelas. Penting untuk memikirkan tata ruang kelas yang dapat mewujudkan merdeka belajar. Tata ruang kelas yang keliru akan membatasi seagian besar murid untuk terlibat dalam proses belajar. Sementara tata ruang yang efektif akan membantu murid terlibat aktif dan mendapat stimulasi belajar yang kaya dan beragam.  Pada sesi terakhir di hari pertama, peserta diajak membicarakan tentang kesepakatan kelas. Grup WA tanpa ada tujuan dan kesepakatan kelas saja bisa menimbulkan kekacauan, apalagi kelas yang interaksinya lebih intensif. Karena itu penting membangun kesepakatan kelas yang akan menjadi panduan bagi semua penghuni kelas dalam berperilaku. AGar berjalan efektif, penyusunan kesepakatan kelas dilakukan dengan melibatkan murid secara penuh. Kesepakatan kelas adalah cara untuk mencapai tujuan belajar kelas yang direfleksikan terus menerus. Pelatihan hari pertama diakhiri dengan refleksi yang mengajak peserta mengkaitkan makan malam idaman dengan pelajaran yang didapatkan dari pelatihan pertama. Refleksi membantu peserta mengingat dan mengorganisir semua pelajaran yang didapatkan dalam sehari.  Sesi pertama hari kedua membahas tentang kebiasaan kelas. Bila kesepakatan kelas adalah jangkar yang mengatur pergerakan semua penghuni kelas, maka kebiasaan kelas berperan sebagai cara untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam kelas. Perubahan kelas sering dan terjadi secara berkala, semisal murid mau ke toilet, transisi antar pelajaran, pergantian jenis aktivitas belajar, atau pun mengakhiri dan mengawali kelas. Dengan adanya kebiasaan kelas, maka penghuni kelas mempunyai tradisi dan kebiasaan yang dijalankan bersama.  Sesi strategi pengelompokan dibawakan oleh Ari Wibowo yang mengajak peserta mengingat kembali posisi duduk ketika SD dan pengelompokkan yang terjadi akibat posisi duduk. Dari pengalaman peserta ditarik pelajaran bahwa pengelompokkan murid seringkali diabaikan guru padahal sangat menentukan dinamika dan efektivitas proses belajar sosial di kelas. Ari Wibowo lalu menceritakan contoh strategi pengelompokkan yang dilakukan di kelasnya dan bagaimana setiap strategi digunakan untuk mencapai tujuan yang berbeda. Setelah itu, peserta mendapat tantangan untuk memnyusun strategi pengelompokan yang sesuai dengan tujuan.  View this post on Instagram A post shared by Ari Wibowo Shinoda (@shinodaari) on Dec 24, 2018 at 5:35am PST Setelah makan siang, peserta diajak menyaksikan video pendek yang diambil dari kasus nyata tentang kelas tanpa guru. Dari video tersebut, peserta diajak untuk memikirkan makna kedisiplinan. Ternyata selama ini kedisiplinan mensyaratkan adanya guru. Tanpa guru, kedisiplinan menghilang. Padahal penting untuk membangun kedisiplinan yang tumbuh dari dalam diri murid. Kedisiplinan sejati. Bagaimana caranya? Dibahas pada sesi berikutnya.  Sesi berikutnya membicarakan strategi menumbuhkan kedisiplinan. Peserta diajak menyaksikan video … Read more

Pesisir Selatan, Menulis Kenangan Manis

Memasuki kunjungan terakhir ke Pesisir Selatan dengan agenda Pelatihan Menulis dan membuat video guru belajar dan penyerahan buku donasi kepada Bapak Ibu Guru Peserta Pelatihan, semua jadwal dan pelatih sudah disiapkan dan diumumkan. Namun, terjadi perubahan mendadak yang membuat jadwal maju dan mundur juga pelatih yang berangkat. Dengan berbagai pertimbangan, yang berangkat adalah saya dan Rizqy Rahmat Hani.

 

Siap Berangkat!

Senin pagi itu kami sudah berada di Bandara Soekarno Hatta menunggu waktu keberangkatan menuju Padang. Seperti dugaan, cuaca di atas sedang musim hujan dan angin kencang. Lima menit take off, yang terlihat hanya awan gelap dan angin yang berhembus kencang. Disusul dengan turbulensi yang cukup membuat jantung makin kencang, tanda penggunaan sabuk pengaman pun belum mati. 30 menit tanpa henti dengan turbulensi, pramugari tetap senyum untuk menawarkan menu sarapan. Muncul pengumuman dari Pilot agar segera menggunakan sabuk pengaman, saat itu aku melihat pramugari yang sedang bertugas segera membenahi troli makanan dan bergegas duduk memakai sabuk pengaman. Huh, 30 menit tersebut cukup mencekam dan sepanjang perjalanan selalu minta sama Allah yang terbaik, pun terdengar dari penumpang lainnya.

Read more

Guru Belajar Sanggau membuat Media Pembelajaran Kekinian

Pada Kamis, 08 November 2018. Komunitas Guru Belajar Sanggau melakukan kolaborasi bersama Gugus IV, Kecamatan Tayan Hilir dalam Kegiatan Learning Adventure of KGB Sanggau, salah satu program kegiatan yang sudah dirancang KGB Sanggau sejak lama dan dikemas dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah, mengingat kegiatan ini beberapa tim dari KGB Sanggau akan berkunjung ke daerah-daerah untuk menyebarkan Praktik baik dari kegiatan belajar atau dari hasil pembelajaran. Menjadi salah satu aksi dari TPN 2018 yaitu membagikan “Oleh-oleh TPN 2018” ke berbagai Kelompok belajar, untuk program Learning Adventure of KGB kali ini, sasaran kami adalah KKG yaitu Kelompok Kerja Guru, dimana juga secara langsung akan mengaktifkan kembali kerja KKG di berbagai daerah, tentunya dengan menanamkan kesadaran semangat Merdeka Belajar. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN 20 Simpang Mandong, Kecamatan TayanHulu, Kabupaten Sanggau, dengan jumlah peserta lebih kurang 49 orang terdiri dari Guru Kelas, Guru Agama, Guru PJOK dan Kepala Sekolah. Dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan turut serta hadir dalam kegiatan ini, dalam hal ini Bapak Donatus, selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda danOlahraga Kecamatan Tayan Hulu memberi kata sambutan sekaligus membuka kegiatan, dalam kesempatan ini bapak Ka.UPT ini mengapresiasi sekali kegiatan ini, beliau juga meminta para guru untuk aktif dan giat dalam belajar, dalam kondisi apapun sebagai seorang pendidik harus mampu ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman yang ada, salah satunya adalah dengan cara tak henti untuk belajar. Hal ini juga diaminioleh bapak Pengawas, dan dipertegas oleh bapak Ketua Inti Gugus IV, bahwa seorang pendidik itu sudah seharusnya mau bergerak, belajar dan mencari tau, beliau mengutip pembicaraan salah satu professor “Orang yang tidak ingin maju adalah orang merugi di muka bumi, karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis, perkembangan zaman yang maju ini harus diikuti dan diadaptasi agar kita tidak menjadi seorang pendidik yang naif” Selaku ketua Gugus IV kecamatan Tayan, Ibu Surnia Ratih berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, agar memotivasi rekan-rekan guru untuk terus mengupdate kompetensi diri. KGB Sanggau melaksanakan kegiatan sharing terkait Alat Peraga dan Pembelajaran dengan narasumber Ibu Titis Kartikawati. Materi yang disampaikan merujuk pada hasil kegiatan TPN 2018, yang merupakan salah satu Aksi dari TPN 2018, yaitu membagikan oleh-oleh pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan beberapa waktu lalu. Dalam TPD #1 ini, Ibu Titis membagikan apa yang diperolehnya di kelas Bercerita dan di kelas Maker Space. Selain itu dibahas pula terkait pembuatan Alat Peraga yang diperoleh dari Ini Budi, serta beberapa materi lain hasil inovasi beliau sendiri. Ibu Titis sangat mengapresiasi semangat belajar rekan-rekan di KKG gugus IV, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau ini. Meskipun banyak para guru yang berusia sudah lanjut namun semangat belajar mereka masih sangat kuat. Peserta kegiatan pun memberikan pesan dan kesan atau harapan akan kegiatan ini, mereka merasa benar-benar menemukan cara belajar yang mereka harapkan. Fleksibel tidak kaku, memiliki semangat keceriaan bukan sekedar menggurui. Terasa santai namun sarat makna dan pengetahuan. Mereka berharap kegiatan seperti ini akan berlanjut secara rutin. Karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pencerahan terkait strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual serta memperoleh inspirasi terkait pembuatan alat peraga inovatif yang ternyata dapat dibuat sendiri dan menggunakan bahan sederhana yang berasal dari sekitar. Dalam kegiatan ini, Ibu Titis mengajak tiap peserta terlibat aktif,  memancing para serta untuk bertanya, sharing pengalaman pribadi terkait kegiatan pembelajaran bahkan mengajak para guru membuat suatu karya sederhana berupa alat peraga dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar mereka. Demikianlah sekilas informasi terkait kegiatan Temu Pendidik Daerah #1 Komunitas Guru Belajar Sanggau. Pada hakikatnya bahwa suatu tujuan akan dapat tercapai dengan baik jika dilakukan dengan niat baik, keyakinan, keberanian, serta kolaborasi. Karena menumbuhkembangkan kesadaran untuk belajar dan membelajarkan dengan baik adalah tugas bersama, Pendidikan itu adalah untuk semua, bukan segelintir orang, atau sebatas usia, namun lebih kepada membangun komitmen bersama demi pencapaian cita-cita. Oleh Wanti Sila Sakti, Komunitas Guru Belajar Sanggau

Guru Belajar Cimahi Berbagi Cara Menulis

Hujan besar sempat menahan berkumpulnya guru-guru merdeka belajar di SD Peradaban Insan Mulia. Luar biasanya, di tengah derasnya guyuran hujan, ada yang memaksakan diri tiba di lokasi Temu Pendidik Daerah (TPD) Cimahi, untuk belajar menulis. TPD diawali dengan pemutaran vlog tentang buku yang ditulis Pak Inan, narasumber utama. Videonya bergaya reportase yang dikemas dengan style amat muda banget. Asyik, deh, pokoknya. Nah, setelah videonya selesai, Pak Inan mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana mulai menulis. Ada satu pertanyaan mendasar yang patut dijadikan renungan, yaitu mengapa guru tidak menulis? Padahal guru adalah profesi yang sangat dengan dengan kegiatan menulis. Ada dua hal yang membuat guru tidak menulis Pertama, guru tersebut belum menemukan alasan untuk menulis. Kedua, guru tersebut belum tahu cara menulis. Untuk sebab pertama, belum menemukan alasan menulis, ada beberapa alasan yang bisa digunakan supaya guru mau menulis, yaitu Supaya bisa naik pangkat Memperoleh popularitas Mendapatkan keuntungan materi (uang) Meski bukan hal yang salah, ketiga alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat guru membuat tekad yang kuat untuk menulis. Kalau berdasarkan tujuan-tujuan di atas, biasanya semangat hanya berkobar di awal dan semakin lama kian redup. Bahkan tak jarang terlalu cepat padam. Alasan yang cukup kuat untuk menggerakkan guru menulis adalah untuk menyebarkan inspirasi dan mengabadikan ide, gagasan, atau pun pengalaman. Kemudian tentang sebab kedua guru tidak menulis, yaitu belum tahu cara menulis, ada trik jitu dan sudah terbukti manjur. Apa itu? Menulislah. Kalau mau bisa menulis, ya menulislah. Tidak ada cara lain yang lebih ampuh. Apa yang ditulis? Apa yang kita kuasai atau apa yang dekat dengan kita. Menuliskannya tidak harus langsung banyak. Bisa dengan cara menulis sambil secara kredit. Tulis dulu, simpan. Kalau sudah banyak, kumpulkan dan kelompokkan. Jadilah naskah buku yang siap dikirim ke penerbit. Tapi saya kan tidak bisa nulis? Nah, untuk guru yang serig mengatakan demikian, ada penjelasan simpel yang mempu membalikkan pernyataan tersebut. Ini disebut dengan sindrom tali kekang gajah. Sejak kecil, gajah diikat dengan rantai di salah satu kaki belakangnya. Setiap kali gajah kecil mencoba bergerak lebih jauh jangkauannya, ia merasa kesakitan kakinya tertahan oleh rantai besi. Setelah berkali-kali merasakan sakit, akhirnya gajah tersebut menyerah. Ia hanya bergerak sampai di sekitar rantai itu saja. Gajah tumbuh dan berkembang. Tubuhnya kian besar dan jauh bertambah kuat. Semetara kaki tetap dirantai dengan rantai yang sama. Kalau saja gajah itu mau bergerak lebih jauh, niscaya rantai itu akan putus. Tetapi karena dalam mindsetnya adalah jika dia bergerak agak lincah akan merasakan sakit, maka gajah itu terperangkap dalam ketidakmampuan diri. Jadi sebenarnya ketakutan itu muncul dari dalam diri. Bukannya tidak mampu menulis, tetapi guru merasa tidak bisa menulis. Padahalnya potensinya bisa jadi sangat besar. Di bagian akhir, Pak Inan memberi trik bagaimana menjual buku tapi tidak seperti orang jualan. Triknya sederhana, jadikan pembeli atau figur tertentu mengendors buku kita tanpa dia sadari.Menarik, kan? Sedangkan narasumber kedua, Pak Suhud, membahas tentang menulis praktik pengajaran dengan pola ATAP (Awal-Tantangan-Aksi-Perubahan). Sesi tanya jawab berkembang sampai ke trik-trik menulis buku. Walaupun pesertanya tidak banyak, tetapi kegiatan ini mampu menggugah motivvasi guru yang hadir untuk menulis. Dalam kesan-kesan yang disampaikan, mereka menyatakan bahwa motivasinya terlecut dan tak sabar untuk mulai menulis. Anda Guru yang ingin belajar menulis juga?Yuk bergabung di Klub Guru Belajar Menulis Oleh Suhud Rois, Komunitas Guru Belajar Bekasi

Manfaat Guru Belajar Membuat Video

oleh Rizqy Rahmat Hani Pernahkah Anda melihat murid Anda belajar memakai hijab dari video di youtube? Atau belajar kunci gitar lagu-lagu Nisa Sabyan dengan melihat tutorial  di internet? Di zaman sekarang, murid terbiasa belajar melalui video yang ada di internet. Selain itu murid juga tidak sekadar menjadi konsumen. Beberapa di antaranya menggunakan video sebagai media berkarya dan berpendapatnya. Ada Agung Hapsah yang mulai membuat video youtube dari sejak SMP. Lifia Naila, youtubers anak yang fokus videonya adalah tentang permainan anak-anak. Pun anak Deddy Corbuzier yaitu Azka Corbuzier yang beberapa kali menyampaikan pendapatnya di videonya. Tantanganya ialah sebagai guru apakah sudah memahami murid dengan belajar dari anak? Memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikan anak seperti video? Video can be a powerful professional learning tool for nurturing the culture of teaching, learning, and connecting ideas and innovations. Ultimately, the more we develop and grow as teachers, the more we grow our students as learners. – Edutopia Melihat fenomena saat ini, keterampilan membuat video menjadi keterampilan yang penting dimiliki oleh guru. Oleh karena itu Inibudi.Org dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan pembuatan video bagi Guru Belajar. Beberapa daerah yang sudah kami sambangi bersama antara lain Labuan Bajo, Bali, Palembang, Tangerang, Jakarta Timur, Bogor dan sebagai pamungkas road show tersebut kami memilih Solo. Komunitas Guru Belajar Solo Raya sangat antusias dalam mempersiapkan kegiatan ini, terlihat dari penyambutan yang dilakukan yaitu adanya penampilan gamelan, paduan suara hingga angkulng dari murid-murid SD Kristen Widya Wacana Jamsaren. Guru-guru yang datang dari berbagai daerah sekitaran Solo pun ikut terbius dengan penampilan murid-murid tersebut. Guru pun mulai belajar membuat skenario dengan kelompoknya, pengambilan gambar, hingga editing sederhana menggunakan handphone. Keterampilan-keterampilan di atas bisa digunakan guru sebagai modal dalam memfasilitasi anak di kelas. Di dalam kelas dengan video guru bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid.  Ada beberapa jenis video yang bisa guru gunakan untuk membantu memfasilitasi murid, antara lain  1.Tutorial  VideoBanyak tutorial yang  dibuat anak-anak ada di youtube, seperti tutorial hijab, tutorial game, tutorial foto, tutorial alat musik, bahkan membagikan resep-resep masakan yang mereka rancang. Berikut contoh-contoh video tutorial buatan murid : Resep Makanan – Adit Sekolah Cikal Tutorial foto makanan oleh murid SMA 1 Sragi, Pekalongan 2. Membuat Produk Video Guru bisa memfasilitasi murid dengan menggunakan video sebagai tugas akhir dalam pembelajaran. Seperti tugas akhir dari murid saya ini. Video tersebut merupakan tugas yang mengintergrasikan beberapa kompetensi dasar antara lain menulis biografi, wawancara, menyampaikan isi berita, dsb.  3. Video TanggapanGuru bisa menggunakan video sebagai media untukmengumpulkan pendapat murid mengenai sesuatu. Seperti misalnya pendapat murid tentang puisi Chairil Anwar, pendapat murid tentang fenomena yang terjadiakhir-akhir ini. Video tersebut pun bisa digunakan guru sebagai bahan penilian. 4. Video RefleksiGuru bisa menggunakan video sebagai bahan refleksi. Guru bertanya tentang pembelajaran dan meminta murid untuk menyampaikan hasil refleksinya. Video tersebut bisa dilihat lagi untuk refleksi guru di pembelajaran selanjutnya. Video saya di atas membantu saya untuk menjadi guru yang lebih baik di pertemuan berikutnya.  Banyak jenis video yang bisa guru gunakan seperti contoh-contoh di atas, namun yang terpenting adalah  apakah kita siap menjadi guru bagi murid zaman now? Jika siap, yuk belajar membuat video bersama kami. Silakan tulis ‘mau’ beserta alasannya di kolom komentar ya!